MANAGED BY:
SABTU
25 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | METROPOLIS | HUKUM DAN KRIMINAL | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | KECAMATAN

UTAMA

Senin, 13 Februari 2017 12:58
Kemarau, Tabung Gas 12 Kg Seharga Sejuta, Tarif Telepon Rp 4 Ribu Per Detik

Serba Terbatas di Kecamatan Long Apari, Perbatasan RI-Malaysia (Bagian-1)

PATOK HIDUP: Warga setempat saat melintas di atas jembatan yang menghubungkan Desa Tiong Ohang dan Tiong Bu’u.(ISTIMEWA)

PROKAL.CO, Tinggal di perbatasan, kehidupan warga Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Hulu (Mahulu), serba terbatas. Ini karena tidak ada akses selain menyusuri Sungai Mahakam. Untuk keluar masuk menuju ibu kota kabupaten saja, yang berjarak sekira enam jam, warga harus bertaruh nyawa terlebih dahulu. Jalur yang dilalui menyimpan riam berbahaya. Kelangkaan seluruh kebutuhan hidup pun kerap mengancam. Utamanya saat musim kemarau, karena tidak satu pun alat transportasi yang bisa melintas akibat air sungai mengering.

CHANDRA DOLLORES, Tiong Ohang

MERAH putih warga setempat tak pernah luntur, sekalipun jarak ke negara lain lebih dekat. “Tetangga” kerap menawari jaminan fasilitas jika berniat berganti bendera. Pernah sekali mengibarkan bendera negara tetangga di atas tower BTS, yang kala itu belum dialiri jaringan. Namun itu langsung mereda, tatkala pemerintah menggelontorkan bantuan akibat kekeringan melanda. Perhatian pemerintah kunci utama kesetiaan warga.

Bocah yang telanjang loncat kegirangan menceburkan diri di bibir sungai. Kaum ibu tampak menemani sembari beraktivitas. Ada yang mencuci pakaian, ada juga yang ikut berendam menggunakan sehelai kain, guna menutupi bagian penting tubuhnya. Sejumlah pria tampak mengutak-atik perahu berukuran mini sebagai alat utama hilir mudik. Pemandangan itu menandakan telah tiba di sebuah perkampungan Kecamatan Long Apari, Mahulu. Daerah yang berbatasan langsung dengan negara bagian Malaysia, Serawak.

Sebelum sejumlah daerah bergabung membentuk Provinsi Kaltara, Kaltim memiliki banyak wilayah yang bersebelahan dengan negara tetangga. Seperti Sebatik dan Nunukan. Tapi, kini Kecamatan Long Apari menjadi satu-satunya daerah di Kaltim, yang secara geografis berdekatan dengan negara tetangga. Mulanya Kecamatan Long Apari bagian dari Kutai Barat. Kemudian berpisah, setelah pemekaran kabupaten baru.

Butuh waktu sekira 10 jam untuk sampai ke Kecamatan Long Apari, menggunakan moda transportasi laut. Perjalanan dimulai dari Tering, Kutai Barat. Ada berbagai moda transportasi untuk sampai ke sana. Speedboat, hingga transportasi tradisional yang populer dengan sebutan longboat. Yaitu, kapal kayu berukuran panjang, yang mampu mengangkut barang bawaan lebih banyak. Mulai dari bahan makanan, bahan bakar minyak (BBM), hingga sepeda motor.

Tercatat ada 10 desa Kecamatan Long Apari. Masing-masing Desa Long Apari, Long Penaneh 1, Long Penaneh 2, Long Penaneh 3, Long Kriyok, Tiong Bu’u, Tiong Ohang, Kampung Baru, Naha Tifaf, dan Desa Naha Silat. Desa Long Apari diketahui bersebelahan langsung dengan Serawak. Itu sebabnya, wilayah tersebut diberi nama Kecamatan Long Apari. Namun kantor kecamatan terletak di Desa Tiong Ohang. Dari Tiong Ohang, ada tiga desa lagi yang harus dilalui. Ini berarti ada sekira tiga riam yang harus dilalui agar bisa sampai ke Desa Long Apari.

“Ibaratnya, Tiong Ohang ibu kota dari Kecamatan Long Apari, karena pusat kegiatan perangkat desa di sini. Banyak tamu yang singgahnya di sini, tapi banyak juga yang langsung ke Desa Long Apari,” kata pengawas SD, Lasah Sang, dalam sebuah kesempatan dengan raut wajah ceria. Terlihat ceria, karena kehidupan warga setempat, termasuk Lasah Sang yang baru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) sejak dua tahun terakhir, menjadi sedikit lebih baik.

Bukan karena harga berbagai bahan kebutuhan menjadi murah, apalagi adanya akses jalan selain menyusuri sungai, melainkan hadirnya jaringan telepon dan SMS. Dan teranyar, berlakunya BBM Satu Harga. Program itu memungkinkan warga setempat menikmati harga BBM yang sama dengan warga dari kota lain di Kalimantan. Bukan tidak mungkin, kesetaraan harga tersebut membuat harga kebutuhan lainnya ikut merata dengan perkotaan.

Semua didapat berkat kerja keras dan kekompakan warga. Bahkan dengan bumbu ancaman pindah kewarganegaraan. Bermula janji manis yang ditebar pemerintah, yakni kesediaan jaringan seluler. Aren, motoris speedboat yang dikontrak khusus untuk mengantar rombongan, bercerita banyak tentang perjuangan warga memperoleh kesetaraan. Apalagi, Aren juga tercatat sebagai warga dari suku asli daerah setempat, yakni Dayak.

“Waktu itu kami dilanda kemarau. Sungai kering, perahu nggak bisa lewat, sementara sembako menipis,” ujarnya.

Elpiji 12 kg, misalnya. Jika biasanya dijual Rp 350 ribu, akibat kemarau melanda, maka menjadi Rp 1 juta. Pun begitu untuk kebutuhan lainnya. Naik 200 persen bahkan lebih. “BBM sampai Rp 40-50 ribu per liter, itu pun barangnya sulit,” ucapnya.

Warga kebingungan dibuatnya. Di sisi lain, bencana tersebut tak sedikit menggugah perhatian pemerintah. “Bantuan enggak datang, cari bantuan sendiri juga tidak bisa. Mau menghubungi keluarga di luar sana juga enggak bisa, karena belum ada (jaringan) telepon dan SMS,” ujarnya memutar ingatan ke tahun 2014.

Satu-satunya komunikasi kala itu, lanjutnya, melalui warung telepon (wartel) satelit bertarif mencekik. “Satu detik, kalau tidak salah Rp 4 ribuan. Jadi baru ngomong sebentar, harganya sudah puluhan bahkan ratusan ribu. Kondisinya benar-benar susah, jadi enggak mungkin mau telepon di wartel,” gebunya lagi.

PASANG BENDERA MALAYSIA, HELIKOPTER BERDATANGAN BAWA BANTUAN

Tower base transceiver station (BTS) selulernya, lanjutnya, bukan tidak ada. Hanya saja belum berfungsi. “Sudah bertahun-tahun dipasang, tapi enggak jelas kapan bisa dipakai,” kesalnya kembali mengenang.

Tak jelas dari mana asalnya, tiba-tiba lahir sebuah rencana. Mengibarkan bendera Malaysia di atas menara BTS. “Malaysia sudah lama mengiming-imingi agar kami pindah. Bahkan fasilitas dijamin tersedia, jalan darat dibangun, sembako murah, dan lain-lain,” ungkapnya.

Kala itu warga pun menyepakati. Tak lagi sekadar rencana, melainkan merealisasikan. Bendera negara tetangga benar-benar tertancap di atas menara dengan kibaran penuh, semangat cerminan luka warga setempat. Singkat cerita, sebelum hari sempat berganti, bantuan berupa bahan makanan akhirnya datang.

“Jadi setelah bendera Malaysia naik, difoto oleh warga Desa Long Pahangai, kemudian dibawa ke kabupaten. Enggak lama helikopter berdatangan. Ada yang mendarat di perkampungan, ada juga (di atas permukaan air) sungai, semuanya bawa bantuan dalam jumlah banyak,” kelakarnya.

Tak hanya berhasil memantik perhatian, warga setempat juga berhasil mempercepat pengadaan jaringan seluler. “Yang seingat saya, setelah itu enggak lama seluler tersedia. Memang enggak langsung hadir, tapi setidaknya diwujudkan dalam waktu lebih cepat,” pukaunya. 

Ya, selang beberapa waktu kemudian, Kecamatan Long Apari berhasil dijangkau jaringan seluler. Ini menyusul masuknya operator berpelat merah, Telkomsel. Baru saja mengecap kemudahan telekomunikasi, warga harus puas dengan batasan waktu yang diberikan.

Ya, saat sejumlah operator seluler tengah bersiap memperebutkan tambahan frekuensi agar tetap beroperasi lantaran jalur sebelumnya sudah padat, masyarakat perkotaan pun tengah keranjingan menikmati jaringan teknologi 4G LTE, namun tidak demikian bagi warga Kecamatan Long Apari. Jangankan merasakan denyut jaringan supercepat, untuk layanan telepon dan SMS saja, itu harus berbatas waktu. Dari pukul 10.00 Wita hingga 23.00 Wita. Rupanya kondisi tersebut jauh lebih baik daripada puluhan tahun lalu.

“Sebenarnya pukul 06.00 Wita (operasional BTS) sudah diaktifkan kembali. Tapi biasanya dua sampai tiga jam kemudian baru (jaringan) on, karena memang butuh waktu,” imbuh Lasah Sang lagi.

Pola tersebut lantas menyisakan pertanyaan besar sekaligus kekhawatiran. Apalagi jika ada peristiwa yang mengharuskan warga berkomunikasi.

Perangkat desa yang bertugas mengawasi kinerja kepala sekolah tingkat dasar ini mengatakan, kewenangan operasional jaringan seluler di tangan pemerintah kabupaten. “Memang ada petugasnya, tapi hak penuh oleh kabupaten,” sahutnya.

Dia beserta warga pun telah berkali-kali mengajukan agar jaringan dibuka 24 jam, tetapi belum ada respons. “Telkomsel sebagai operator pasti sudah mengamanatkan untuk beroperasi, bahkan selama 24 jam setiap harinya. Tapi memang petugas memutuskan demikian, kami tidak bisa berbuat banyak,” ulasnya. (*/bersambung/k1)


BACA JUGA

Jumat, 24 November 2017 08:51

Afkot: Pertandingan Futsal Ilegal

BALIKPAPAN  -   Asosiasi Futsal Kota (Afkot) Balikpapan angkat bicara terkait pertandingan…

Jumat, 24 November 2017 08:50

ADA APA INI...?? Polisi Gencarkan Razia di Semayang

BALIKPAPAN  -  Untuk mengantisipasi masuknya barang-barang terlarang seperti minuman keras…

Jumat, 24 November 2017 08:48

Satpam Bawa Badik, Dicokok Polisi

BALIKPAPAN  -  Rencana mau mengambil sepeda motor di kawasan Gunung Gembira, Kelurahan Baru…

Jumat, 24 November 2017 08:45

Bapak dan Anak Jadi Tersangka

TANJUNG REDEB  -  Dua pelaku penimpasan yang membuat MT (27), warga Jalan Milono, RT 12, Kelurahan…

Jumat, 24 November 2017 08:45

Kabag Keuangan Tak Tahu Keberadaan Dillah

BALIKPAPAN  -  Mantan Bendahara Sekretariat DPRD (Setwan) Balikpapan, Dillah, belum diketahui…

Jumat, 24 November 2017 08:44

Perhiasan Senilai Rp 5 Miliar Raib

NUNUKAN  -  Perhiasan milik salah seorang warga Kabupaten Berau Kalimantan Timur, Arifuddin,…

Jumat, 24 November 2017 08:41

Trio Paling Galak Se-Eropa

PARIS  Saint-Germain (PSG) tak terbantahkan lagi kalau musim ini adalah unit serang terbaik Eropa.…

Jumat, 24 November 2017 08:39

Gagal Paham

Ada seorang Madura yang kaya raya, pergi ke suatu tempat dan menginap di sebuah hotel yang mewah. Sebelum…

Kamis, 23 November 2017 09:06

Ketua RT Kecam Keras Pelaku

BALIKPAPAN  -  Mencuatnya dugaan pungutan liar (pungli) dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis…

Kamis, 23 November 2017 09:03

Wali Kota Diminta Cabut Segudang Penghargaan P

“Saya mohon pengawasan bersama. Tidak hanya dari pemerintah kota, tapi dari semua elemen masyarakat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .