MANAGED BY:
SABTU
21 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | METROPOLIS | HUKUM DAN KRIMINAL | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | KECAMATAN

HUKUM DAN KRIMINAL

Jumat, 13 Oktober 2017 08:16
Semula Rp 6 Ribu, Naik Jadi Rp 20 Ribu

Dari Sidang Dugaan Pungli TPK Palaran

PROKAL.CO, SAMARINDA  –   Batas waktu penahanan Noor Asriansyah alias Elly tengah di ujung tanduk. Elly merupakan terdakwa kasus dugaan pungutan liar (pungli) retribusi parkir di Terminal Peti Kemas (TPK) Palaran, Samarinda.

Pada 6 November 2017 nanti, jika perkara yang bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda belum juga tuntas, maka manajer lapangan unit pelabuhan Koperasi Serba Usaha Pemuda Demokrat Indonesia Bersatu (KSU PDIB) itu tak lagi mendekam di Rutan Klas IIA Sempaja. Mau tak mau, jaksa penuntut umum (JPU) harus menggelar perkara ini dua kali sepekan.

Kemarin (12/10), perkara ini kembali digulirkan. Agendanya adalah pemeriksaan saksi meringankan yang dihadirkan terdakwa. Melalui penasihat hukumnya, Elly menghadirkan Mulyadi, sopir dari PT Meratus ke hadapan majelis hakim yang diketuai AF Joko Sutrisno. Dua hakim anggota turut mendampingi, Burhanuddin dan Hendry Dunant.

Berikut rangkuman persidangan perkara KSU PDIB hasil operasi tangkap tangan (OTT) Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Mabes Polri.

AF Joko: Saksi meringankan ini akan menerangkan apa?

Penasihat hukum: Saksi ini majelis sudah sejak lama menjadi sopir yang rutin mengantar barang ke Terminal Peti Kemas Palaran. Jadi saksi ini akan memberikan keterangan selama dia rutin mengantar barang ke sana. Jadi, saksi sudah berapa lama menjadi sopir ?

Mulyadi: Saya sudah jadi sopir lebih dari 10 tahun, Pak.

Penasihat hukum: Tahu tidak pemilik lahan biasa tempat parkir sebelum masuk ke TPK Palaran? Selama parkir di sana, ada pungutan tidak?

Mulyadi: Kalau dari pemberitaan, lahan itu milik Pak Abun (Heri Susanto Gun, terdakwa lain dalam perkara ini). Semula kami parkir di pinggir jalan. Sekitar 2012 baru kami parkir di lahan itu sembari menunggu bongkar muat di pelabuhan. Saat itu baru ada pungutan. Besarannya saat itu hanya Rp 6 ribu. Sempat naik beberapa kali, sampai yang terakhir sebesar Rp 20 ribu.

Penasihat hukum: Tahu tidak kenapa ada pungutan? Lalu bagaimana jika tidak membayar?

 

Mulyadi: Di pos yang ada terpasang spanduk untuk pemungutan retribusi. Ada SK wali kota (Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang) juga tertulis di spanduk itu, Pak. Kalau enggak bisa bayar biasanya saya ngutang dulu. Begitu pula pas pungutan naik, saya sudah beritahu kantor ada pungutan retribusi parkir sebelum menunggu proses bongkar muat. Jadi biaya retribusi itu diberikan kantor.

 

Penasihat hukum: Pos-nya ada berapa banyak ? retribusi apa saja yang harus dibayarkan?

 

Mulyadi: Pos ada dua, Pak. Pertama di lahan lapang buat parkir itu bayar Rp 20 ribu. Sementara di TPK Palaran-nya saya bayar Rp 8 ribu.

 

Penasihat hukum: Saksi tahu enggak awal mula kenapa harus ada pungutan di atas lahan itu?

 

Mulyadi: Karena lahan itu jadi tempat parkir, Pak. Kalau di TPK Palaran kan hanya proses bongkar muat. Jadi enggak bisa parkir, kalau enggak ada lahan itu, sopir parkirnya di pinggir jalan. Kayak di Kompleks Pergudangan di Ir Sutami (Sungai Kunjang, Samarinda). Kerjanya kan borongan, jadi pasti kejar waktu.

 

Sementara masuk ke TPK Palaran harus antre untuk bongkar muat kontainer. Kalau mau mudah tentunya harus dekat pelabuhan. Makanya kami parkir kendaraan ketika menunggu giliran di lahan itu.

 

Giliran bertanya pun beralih ke JPU Agus Supriyanto

 JPU Agus: Bagaimana sistem pendapatan saksi selama jadi sopir? Dibayar per bulan atau per hari? Lalu, kenapa kok saksi enggak keberatan bayar retribusi itu?

 Mulyadi: Saya dibayar sekali pengantaran sekitar Rp 500 ribu. Tapi itu sudah termasuk solar dan retribusi di dua pos itu. Biaya retribusi kan langsung dari kantor, bukan uang pribadi saya, Pak.

 AF  Joko: Lalu soal lahan, diportal tidak? Apakah ada batas waktu lewatnya. Misal jika lewat jam sekian maka portal ditutup. Seberapa sering menunggu giliran bongkar muat?

 Mulyadi: Pos saja pak. Lokasinya di pinggir jalan. Pelabuhan kan 24 jam Pak. Apalagi umumnya hanya lima kontainer saja yang bisa proses di dalam pelabuhan. Makanya harus antre.

 AF Joko: Soal naiknya retribusi, ada edaran dari pengelola tidak?

 Mulyadi: Ada, Pak. Saya teruskan ke kantor edaran itu.

 Burhanuddin: Saya hanya mau tanya, kalau retribusi dibayar kantor kok saksi tadi bilang kalau enggak ada uang bisa berhutang. Ini kok ironi sekali. Saksi tahu ada demo di TPK Palaran?

 Mulyadi: Kadang uangnya keburu dipakai buat makan, jadi kurang. Makanya ngutang dulu. Soal demo ada dua masalah, Pak. Pertama, masalah karcis retribusi yang naik. Lalu, masalah jam kerja yang harus di atas pukul 21.00 Wita baru boleh bekerja.

 Masalah retribusi itu banyak saja yang setuju Pak. Kalau enggak setuju malah kami yang enggak kerja karena enggak bisa mengantar barang.

 Selepas saksi ini diperiksa, majelis hakim meminta JPU untuk menggeber persidangan untuk terdakwa tersebut. Persidangan pun bakal dilanjutkan pada 18 Oktober mendatang dengan agenda pemeriksaan ahli. ”Kalau bisa sekalian tuntutan untuk terdakwa ini. waktu penahanan sudah mau habis soalnya,” tutur AF Joko Sutrisno. Namun, JPU Agus tak berani memastikan rencana tuntutan bakal rampung sepekan ke depan.

 Alasannya, perkara ini merupakan kasus yang langsung ditangani Kejagung RI. ”Jadi perlu kami koordinasikan dulu dengan Kejagung, majelis. Diupayakan secepatnya berkas tuntutan turun,” Kata jaksa dari Kejari Samarinda ini menutup persidangan. (*/ryu/riz/k18/kpnn)


BACA JUGA

Jumat, 20 Oktober 2017 08:32

Buruh Sawit Edarkan Sabu

SANGATTA  –  Anggota opsnal Polsek Rantau Pulung mengamankan tiga orang yang diduga…

Jumat, 20 Oktober 2017 08:30

Tukang Cukur Cabuli Pelajar

GOWA  -   Kekerasan terhadap anak kembali terjadi di Kabupaten Gowa. Seorang oknum tukang…

Jumat, 20 Oktober 2017 08:29

500 Lembar Uang Palsu Beredar

BALIKPAPAN  -  Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Balikpapan mencatat, jumlah peredaran…

Jumat, 20 Oktober 2017 08:28

Rumah Terbakar, Satu Penghuni Tewas

SURABAYA  –  Nasib nahas dialami Matali, 87, warga Jalan Petemon Kuburan Nomor 40 RT…

Jumat, 20 Oktober 2017 08:26

Polisi Akan Libas Seluruh Pemicu Kriminalitas

NUNUKAN  –  Sepertinya polisi tidak main-main dalam pemberantasan minuman keras (miras),…

Jumat, 20 Oktober 2017 08:25

Hakim Terlibat Narkoba Bakal Dipecat

SAMPIT  –  Badan Narkotika Kabupaten (BNK) dan Satreskoba Polres Kotim mendadak menggelar…

Kamis, 19 Oktober 2017 08:32

Jual Miras, PKL Digelandang ke Polres

NUNUKAN  –  Minuman keras (miras) yang masih dijual bebas masih menjadi perhatian khusus…

Kamis, 19 Oktober 2017 08:31

Bawa Sabu 4,5 Kg, Dihukum 17 Tahun Penjara

PALU   - Tuntutan hingga putusan pidana yang diganjarkan kepada terdakwa Syamsul Rizal alias Ijal…

Kamis, 19 Oktober 2017 08:30

Tewas Ditikam Usai Pesta Miras

MAROS  -  Sebuah pesta miras berujung maut terjadi di di Dusun Panagi, Desa Cenrana, Kecamatan…

Kamis, 19 Oktober 2017 08:30

Sesal JM, Diciduk, Istri Menanti Persalinan

SANGATTA  –  Sudah bukan rahasia, menggunakan narkotika jenis sabu untuk memperkuat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .