MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL
Selasa, 14 November 2017 08:14
Kurang Gizi Pada Ibu Hamil dan Anak Picu Efek Serius
ASUPAN GIZI: Untuk melahirkan generasi yang cerdas, maka asupan gizi untuk ibu hamil mutlak diperhatikan.

PROKAL.CO, class="first-paragraph-bottom-zero">ANAK  adalah investasi bangsa. Untuk melahirkan generasi yang cerdas, maka asupan gizi mutlak diperhatikan.

Ironinya, di Indonesia angka kurang gizi khususnya pada balita mencapai 17 persen pada tahun 2017.

Angka ini berdasar kecukupan berat badan pada balita.

Jika dibandingkan dengan nilai ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 10 persen, berarti Indonesia masuk dalam kondisi darurat.

Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. drh. M. Rizal Damanik, Mrep.Sc,PhD menilai, masalah kurang gizi adalah problem yang sangat serius karena akan berdampak panjang.

Jika kurang gizi dialami saat kecil, maka akan terjadi pertumbuhan yang tidak optimal pada organ-organ tubuhnya.

"Hal ini tentunya akan berdampak pula pada kecerdasan anak, yakni kemampuan daya tangkap otak yang rendah. Jika terjadi, maka individu-individu tersebut akan tumbuh menjadi generasi yang lemah, baik fisik maupun kecerdasaan otaknya," paparnya dalam keterangan tertulis, Senin (13/11).

Adapun tiga masalah utama terkait kurangnya gizi, khususnya pada anak dan ibu hamil, bisa memnuculkan efek domino, baik sosial maupun kesehatan. Berikut penjelasannya:

1. Masalah Sosial

Jika dalam satu daerah mengalami kurang gizi, maka yang akan terjadi adalah masyarakatnya tumbuh menjadi generasi pemalas dan tidak kuat bekerja.

Dampaknya akan muncul berbagai masalah sosial seperti premanisme.

"Biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi masalah ini pun jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya mencegah kurang gizi dari awal," kata Rizal.

2. Balita Stunting/Tubuh Pendek

Rizal juga menjelaskan kasus kurang gizi pada balita, umumnya berawal dari bayi yang terlahir stunting atau bayi berat badan lahir rendah (BBLR), yakni kurang dari 2,5 kilogram.

Kondisi bayi ketika lahir, tentu dipengaruhi oleh kondisi ibu saat hamil.

Oleh sebab itu, penting untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil agar bayi yang terlahir sehat dan generasi penerus bangsa juga terselamatkan.

3. Gizi Ibu Hamil

Program pemenuhan gizi ibu hamil ini telah diatur oleh pemerintah dalam Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 2013, tentang percepatan perbaikan gizi yang disebut dengan Program Penentuan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).

Program ini berupa pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil, penanggulangan kecacingan, dan pemberian zat besi dan folat.

1000 HPK dimulai dari saat konsepsi atau kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.

“Program ini sudah sangat bagus dan harapannya semoga bisa semakin merata dirasakan oleh ibu-ibu hamil di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, dia juga menambahkan untuk menyelesaikan permasalahan gizi, dibutuhkan kerjasama yang baik dari berbagai pihak.

Sebab masalah gizi merupakan masalah yang saling berkaitan antara satu lembaga dengan lembaga lain bukan hanya dibebankan pada satu lembaga saja. (ika/JPC/san)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 09 September 2018 10:40

RS dan BPJS Kesehatan Saling Bantah

BALIKPAPAN - BPJS Kesehatan kembali menegaskan bahwa tidak ada aturan persalinan bukaan lima barulah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .