MANAGED BY:
SABTU
15 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

POROS SELATAN

Kamis, 23 November 2017 09:41
Harga Naik Satu Persen, Bisa Akibatkan 120 Ribu Warga Jadi Miskin

Pelatihan Wartawan Daerah Bersama Bank Indonesia (Bagian-1)

APRESIASI PELATIHAN WARTAWAN: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara saat membuka kegiatan pelatihan wartawan daerah di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

PROKAL.CO, Inflasi menjadi salah satu faktor penyebab turunnya nilai mata uang. Ini karena meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, termasuk juga adanya ketidaklancaran distribusi barang.


HAMDAN


Di berbagai daerah, inflasi terkadang memberikan dampak terhadap peningkatan angka kemiskinan. Misal, harga beras jadi melambung. Jika kenaikan satu persen, maka penduduk yang statusnya nyaris miskin akan menjadi miskin. Setiap harga kenaikan satu persen akan mengakibatkan 120 ribu warga menjadi miskin.

“Komoditas beras menyumbang 21,8 persen terhadap kemiskinan. Mengendalikan harga pangan, jadi bisa mengatasi inflasi,” kata Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Perekonomian, Iskandar Simorangkir.


Sebenarnya, inflasi terjadi bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi, belum tentu menunjukkan inflasi. Hal itu terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling memengaruhi.


Secara keseluruhan, inflasi relatif terkendali. Pada Oktober 2017 mencapai 0,01 persen (mom) dan 3,58 persen (yoy). Hingga Oktober 2017, inflasi mencapai 2,67 persen (ytd). Inflasi pangan mengalami tren penurunan sejak awal tahun. Tapi, sejauh ini mulai dapat dikendalikan dengan semakin intensnya koordinasi baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia dalam menjaga ketersediaan pasokan. Hingga Oktober, inflasi di Kaltim mencapai 3,54 persen (yoy).

Memang pertumbuhan ekonomi hingga triwulan terakhir meningkat. Pada triwulan pertama naik 0,01 persen, lalu triwulan kedua mencapai 5,01 persen dan triwulan ketiga 5,06 persen. Dari sini, Iskandar menambahkan bisa dilihat konsumsi daya beli masyarakat.

“Karena konsumsi paling utama itu kan orang membeli barang itu. Kalau kita lihat tetap dan tidak ada penurunan, mungkin ada fenomena yang menarik memukul industri dalam negeri. Seperti saya kemukakan tadi, ada memang pola switching dari belanja offline menjadi online itu data-data dari Apindo,” jelasnya.


Tak hanya itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menambahkan, jika kurs menurun maka daya beli rupiah juga menurun. Kurs nilai berasal dari survei valuta asing. Bank Indonesia berbicara dengan perkembangan kurs dan inflasi.

“Pengendalian nilai rupiah, yakni pengendalian kurs dan inflasi. Untuk
inflasi perihal suplai peranan dan jasa. Sementara bagi pengendalian kurs, bagaimana menambah devisa artinya menambah barang ekspor. Di samping sektor wisata mengundang para turis,” ujarnya.


Di samping itu, inflasi meningkat juga dipengaruhi dengan berbagai pemberitaan di media baik online, cetak, ataupun elektronik. Misal, kelangkaan tabung gas elpiji 3 kg. Pemberitaan terus dibuat hingga membuat kepanikan para masyarakat. Berimbas pada permintaan semakin meningkat, akhirnya berbondong-bondong untuk mencari tabung gas 3 kg. Padahal pada kenyataan, stok masih ada. “Permintaan yang semakin tinggi menyebabkan inflasi meningkat,” ungkapnya.

Sementara pengamat ekonomi Lana Sulistyaningsih menjelaskan, stabilitas harga perlu dilakukan. Dengan catatan, industri wajib dibentuk melalui komoditas utama. Karena komoditas menurun memengaruhi inflasi yang semakin tinggi. “Cara menjaga daya beli tidak turun ada dalam harga. Jadi, stabilitas harga sangat perlu,” kata dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.


Untuk itulah Bank Indonesia menggelar pelatihan wartawan daerah selama dua hari, 20-21 November, di Hotel Grand Sahid Jaya. Ini untuk mengawal peran serta bank di masing-masing daerah. Sebanyak 580 peserta tersebar dari 34 provinsi kantor perwakilan Bank BI ambil bagian pada pelatihan ini. (*/rus/k1)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 15 Desember 2018 07:54

AYO BELANJA MURAH

Suasana Natal kian terasa di sejumlah perbelanjaan di Kota Minyak.…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:53

Selama 2018, Kebakaran di Kota Ini Merenggut Enam Jiwa

BALIKPAPAN  -  Musibah kebakaran yang terjadi selama tahun 2018 mendapat…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:52

WADUH..!! Ada 84 Orang Gila Bebas Berkeliaran di Tengah Kota

BALIKPAPAN  -  Orang gila (orgil) atau bahasa medisnya orang dengan…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:51

PHKT Beri Edukasi dan Kampanye HIV/AIDS ke Pelajar

BALIKPAPAN  -   Memperingati Hari AIDS Sedunia, PT Pertamina Hulu Kalimantan…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:50

LVRI Balikpapan Butuh Kantor Baru

BALIKPAPAN  -  Dewan Pimpinan Cabang Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI)…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:50

Menag Dukung Putusan MK, Usia Nikah Minimal 19 Tahun

MENTERI Agama Lukman Hakim Saifuddin mendukung putusan Mahkamah Konstitusi (MK)…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:49

Kemendagri Instruksikan E-KTP Rusak Dibakar

KEMENTERIAN  Dalam Negeri (Kemendagri) telah menginstruksikan agar e-KTP yang rusak…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:48

PLN UP3 Balikpapan Siap Siaga Bencana

BALIKPAPAN  -  PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Balikpapan menggelar…

Jumat, 14 Desember 2018 08:35

Gang Api Bakal Disulap Menjadi Permukiman Modern

BALIKPAPAN   -  Permukiman atas air di kawasan Gang Api,…

Jumat, 14 Desember 2018 08:33

2019, Dewan dan Pemkot Bahas 48 Raperda

BALIKPAPAN   -  Sebanyak 47 raperda disepakati dalam rapat sinkronisasi fungsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .