MANAGED BY:
MINGGU
24 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

POROS SELATAN

Kamis, 23 November 2017 09:41
Harga Naik Satu Persen, Bisa Akibatkan 120 Ribu Warga Jadi Miskin

Pelatihan Wartawan Daerah Bersama Bank Indonesia (Bagian-1)

APRESIASI PELATIHAN WARTAWAN: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara saat membuka kegiatan pelatihan wartawan daerah di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

PROKAL.CO, Inflasi menjadi salah satu faktor penyebab turunnya nilai mata uang. Ini karena meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, termasuk juga adanya ketidaklancaran distribusi barang.


HAMDAN


Di berbagai daerah, inflasi terkadang memberikan dampak terhadap peningkatan angka kemiskinan. Misal, harga beras jadi melambung. Jika kenaikan satu persen, maka penduduk yang statusnya nyaris miskin akan menjadi miskin. Setiap harga kenaikan satu persen akan mengakibatkan 120 ribu warga menjadi miskin.

“Komoditas beras menyumbang 21,8 persen terhadap kemiskinan. Mengendalikan harga pangan, jadi bisa mengatasi inflasi,” kata Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Perekonomian, Iskandar Simorangkir.


Sebenarnya, inflasi terjadi bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi, belum tentu menunjukkan inflasi. Hal itu terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling memengaruhi.


Secara keseluruhan, inflasi relatif terkendali. Pada Oktober 2017 mencapai 0,01 persen (mom) dan 3,58 persen (yoy). Hingga Oktober 2017, inflasi mencapai 2,67 persen (ytd). Inflasi pangan mengalami tren penurunan sejak awal tahun. Tapi, sejauh ini mulai dapat dikendalikan dengan semakin intensnya koordinasi baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia dalam menjaga ketersediaan pasokan. Hingga Oktober, inflasi di Kaltim mencapai 3,54 persen (yoy).

Memang pertumbuhan ekonomi hingga triwulan terakhir meningkat. Pada triwulan pertama naik 0,01 persen, lalu triwulan kedua mencapai 5,01 persen dan triwulan ketiga 5,06 persen. Dari sini, Iskandar menambahkan bisa dilihat konsumsi daya beli masyarakat.

“Karena konsumsi paling utama itu kan orang membeli barang itu. Kalau kita lihat tetap dan tidak ada penurunan, mungkin ada fenomena yang menarik memukul industri dalam negeri. Seperti saya kemukakan tadi, ada memang pola switching dari belanja offline menjadi online itu data-data dari Apindo,” jelasnya.


Tak hanya itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menambahkan, jika kurs menurun maka daya beli rupiah juga menurun. Kurs nilai berasal dari survei valuta asing. Bank Indonesia berbicara dengan perkembangan kurs dan inflasi.

“Pengendalian nilai rupiah, yakni pengendalian kurs dan inflasi. Untuk
inflasi perihal suplai peranan dan jasa. Sementara bagi pengendalian kurs, bagaimana menambah devisa artinya menambah barang ekspor. Di samping sektor wisata mengundang para turis,” ujarnya.


Di samping itu, inflasi meningkat juga dipengaruhi dengan berbagai pemberitaan di media baik online, cetak, ataupun elektronik. Misal, kelangkaan tabung gas elpiji 3 kg. Pemberitaan terus dibuat hingga membuat kepanikan para masyarakat. Berimbas pada permintaan semakin meningkat, akhirnya berbondong-bondong untuk mencari tabung gas 3 kg. Padahal pada kenyataan, stok masih ada. “Permintaan yang semakin tinggi menyebabkan inflasi meningkat,” ungkapnya.

Sementara pengamat ekonomi Lana Sulistyaningsih menjelaskan, stabilitas harga perlu dilakukan. Dengan catatan, industri wajib dibentuk melalui komoditas utama. Karena komoditas menurun memengaruhi inflasi yang semakin tinggi. “Cara menjaga daya beli tidak turun ada dalam harga. Jadi, stabilitas harga sangat perlu,” kata dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.


Untuk itulah Bank Indonesia menggelar pelatihan wartawan daerah selama dua hari, 20-21 November, di Hotel Grand Sahid Jaya. Ini untuk mengawal peran serta bank di masing-masing daerah. Sebanyak 580 peserta tersebar dari 34 provinsi kantor perwakilan Bank BI ambil bagian pada pelatihan ini. (*/rus/k1)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 23 Juni 2018 07:38

Usulan Rp 5 Miliar Direspon BNPB

PENAJAM  –   Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merespon usulan bantuan…

Sabtu, 23 Juni 2018 07:36

Sistem Zonasi Harus Bertahap

BALIKPAPAN  -  Persoalan zonasi 90 persen untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)…

Sabtu, 23 Juni 2018 07:35

Awang Bantah i karena Politik

SAMARINDA  - Mengakhiri masa jabatannya selama dua periode memimpin Kaltim, Gubernur Awang Faroek…

Sabtu, 23 Juni 2018 07:34

Tembus 33 Ribu Pengunjung, Omzet Naik Berlipat

BALIKPAPAN - Libur panjang Idulfitri yang bertepatan dengan liburan anak sekolah, dimanfaatkan warga…

Sabtu, 23 Juni 2018 07:34

Status Belum Dicabut, DKK Fokus Imunisasi DPT

BALIKPAPAN -  Bulan ke enam pasca ditetapkannya status Kejadian Luar Biasa (KLB)di Kota Balikpapan.…

Jumat, 22 Juni 2018 08:36

Usia Jadi Syarat Utama

BALIKPAPAN  -  Persiapan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat Sekolah Dasar…

Jumat, 22 Juni 2018 08:34

Empat ASN Bolos Kerja

PENAJAM  -   Aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan pemerintah Kabupaten Penajam Paser…

Jumat, 22 Juni 2018 08:32

Komisi I Sidak Pelabuhan dan Bandara

BALIKPAPAN  -  Komisi I DPRD Balikpapan melakukan inspeksi mendadak (sidak) di dua pintu masuk…

Jumat, 22 Juni 2018 08:31

Pasha Ungu Dukung AGM

PENAJAM  - Tak hanya menghibur warga yang hadir di kampanye akbar pasangan calon (paslon) bupati…

Jumat, 22 Juni 2018 08:27

Disidak, 55 Pegawai DPUPR Absen

SAMARINDA   -   Penjabat Sekretaris Provinsi (Pj Sekprov) Kaltim Meiliana membuktikan ucapannya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .