MANAGED BY:
SENIN
22 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

UTAMA

Sabtu, 13 Januari 2018 08:13
Guru Ngaji Cabuli Belasan Bocah

ASUSILA

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR  -  Aparat kepolisian Polres Bulungan mengamankan seorang pria berinisial CM lantaran diduga melakukan pencabulan kepada sejumlah anak di bawah umur di Kecamatan Tanjung Palas Barat. Pria berusia 59 tahun tersebut diamankan jajaran Polsek setempat.

Pria paro baya ini diketahui bekerja sebagai marbut di salah satu masjid di Tanjung Palas Barat, tepatnya di Desa Long Beluah. CM pun telah diamankan di Mapolres Bulungan untuk dimintai keterangan lebih lanjut, setelah diringkus jajaran Polsek setempat pada Rabu (10/1) sekitar pukul 16.00 Wita. Selanjutnya, Kamis (11/1) pelaku dibawa ke Polres Bulungan.

Kapolres Bulungan AKBP Muhammad Fachry melalui Kanit Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Bulungan, Aiptu Lince Karlinawati membenarkan adanya penahanan terhadap pelaku yang diduga melakukan pencabulan tersebut.

“Pria berinisal CM umur 59 tahun diduga melakukan pencabulan, saat ini sudah diamankan di Polres Bulungan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ini terungkap tentu adanya laporan dari pihak korban sendiri,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (12/1).

Disinggung mengenai jumlah korban, dirinya masih belum dapat memastikan jumlahnya. Namun dari keterangan sementara, setidaknya ada belasan anak dengan rentang umur 7 hingga 8 tahun yang menjadi korbannya.

 

“Dugaan sementara, setidaknya ada 15 anak korbannya. Namun saat ini baru satu orang saksi korban yang dimintai keterangan, yaitu anak berinisial N yang baru berumur 7 tahun dan baru kelas satu sekolah dasar, karena status anak jadi didampingi orang tuanya,” ungkapnya.

 

“Untuk jenis kelamin korban yang lain kita belum bisa pastikan,” timpalnya.

 

Namun kata dia, korban-korban yang lain juga akan dilakukan pemeriksaan. Namun, akan dilakukan secara bertahap mengingat kondisi lokasi jauh dari Polres Bulungan dan juga rata-rata masih bersekolah di desa setempat. “Kasus akan tetap dilanjutkan,” sebutnya.

 

Untuk itu, kata dia, pihaknya akan melakukan gelar perkara sebagai tindak lanjut dari peningkatan kasus tersebut. Sehingga nantinya ada penetapan tersangka, jika memang bukti-bukti cukup kuat.

 

Selain sebagai marbut, pelaku juga diketahui sebagai guru ngaji bagi anak-anak desa setempat. Modus dari pelaku, beber Lince, sebelum pengajian dimulai, anak-anak dibawa bercanda. Terkadang ada yang diberikan uang untuk upaya pendekatan ke korban, setelah anak-anak dekat dengannya, korban dipangku dan memulai aksi cabulnya. Seperti memegang kelamin dan lainnya. “Dia (pelaku, Red.) menjalin kedekatan dengan korbannya, makanya korban mau saja dipangku-pangku,” sebutnya.

 

Disinggung seperti apa hukuman yang akan diberikan jika benar terbukti, dikatakannya, pelaku akan dijerat dengan Undang-undang (UU) Republik Indonesia nomor 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, pasal 82 ayat 1. “Dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara, sementara ini kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” tutupnya.

 

Sementara itu, menyikapi kasus pecabulan yang terjadi pada anak di bawah umur, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Bulungan, Hj.Aryani Arsyad mengatakan, pihaknya akan memberikan pendampingan kepada korban sesuai tugas dan fungsinya.

 

“Kami siap mendampingi wanita dan anak-anak korban kekerasan, baik KDRT maupun kekerasan seksual,” sebutnya.

 

Lanjut ia katakan, upaya pendampingan tersebut nantinya akan lebih kepada usaha pemulihan sisi psikologis korban. Sebab kata dia, biasanya korban secara psikologi cenderung merasa trauma, baik itu ringan atau bahkan berat.

 

“Jadi baik korban KDRT maupun kekerasan seksual, harus dibangun kembali kepercayaan dirinya agar bisa bersoalisasi dengan biasa di tengah masyarakat. Jadi kita hanya lakukan pendampingan, namun proses hukumnya tetap diselesaikan di pihak kepolisian,” jelasnya singkat.

 

Terkait maraknya predator anak atau pelaku pencabulan yang menargetkan korbannya adalah anak-anak di Indonesia saat ini, Psikolog Arief Boedi, S. Psi, M.Psy Clin, MD menjelaskan, rata-rata mereka atau pelaku yang melakukan pencabulan tersebut dinilainya tidak mampu dari sisi ekonomi untuk bisa ‘jajan’ di luar. Sehingga pelampiasan ditujukan kepada anak-anak yang notabenenya mudah dimanfaatkan.

 

“Mengapa harus anak? Karena anak tidak melakukan protes, dikasih ini-itu. Si pelaku kemudian dapat yang ia inginkan. Misalnya terjadi kasus seperti penjaga masjid, kuli bangunan atau mereka yang merantau dari daerah lain dan tidak memiliki keluarga, rentan menjadi pelaku,” jelas psikolog lulusan Seoul University ini kepada Radar Kaltara kemarin.

 

Selain itu kata dia, selain faktor ekonomi juga ada faktor lain. Sekalipun ia memiliki keluarga, seperti istri yang tidak dapat melayani atau istri mengintimidasi yang berlebihan pada pasangan. “Sehingga ia mencari pelarian yang tidak banyak mengomel,” tuturnya.

 

Tak hanya itu kata dia, pelaku bisa saja ada penyimpangan seksual, namun kata dia kecil kemungkinan itu terjadi pada orang yang melakukan pencabulan. Berbeda dengan kasus sodomi maupun kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

 

Ia katakan, pada anak sendiri, kasus seperti pencabulan tersebut bisa menjadi trauma bagi seorang anak. Di mana mereka sudah percaya pada orang yang dianggap dipercaya, tetapi justru melakukan hal yang menyakitkan mereka. “Kemudian mengapa anak menjadi korban, iya karena memang mereka belum mengerti apa-apa,” tambahnya.

 

Untuk mengantisipasi kasus serupa pada anak, orang tua harus mengetahui di mana tempat bermain anak dan dengan siapa ia bermain. Ia menyarankan orang tua jangan mudah percaya pada orang-orang yang berpura-pura akrab dengan keluarga. “Justru yang akrab inilah yang menjadi pelakunya,” sebutnya.

 

Sehingga orang tua harus dapat memberikan pemahaman kepada anak-anaknya. Ia katakan tentunya pelaku pada awal sebelum melakukan aksinya, terlebih dahulu melakukan pemantauan.

 

“Pantas tidak anak itu jadi korban, apakah nanti dia melapor kepada orang tuanya. Nah ini yang harus diperhatikan orang tua, agar bisa memberikan pemahaman kepada anak-anaknya, ketika ada yang tidak baik seperti apa dan yang lainnya,” bebernya.

 

Sebab kata dia, tidak mungkin anak yang banyak omong yang dijadikan korban. Untuk itu pelaku pasti cari aman terlebih dahulu dengan melakukan pemantauan tadi, untuk itu orang tua harus tahu kondisi lingkungannya. “Siapa yang dipercaya, jika pun kita percaya, kita harus tahu kredibilitas orang itu seperti apa,” sebutnya.

 

Makanya kata dia, pernah ada wacana pemerintah untuk melaksanakan full day school yang berarti bukan sekolah sampai sore. Namun beraktivitas di sekolah hingga orang tua selesai beraktivitas. “Ketika orang tua sudah selesai, maka anak bisa dijemput. Sehingga kembali kepada orang tuanya,” ungkapnya.

 

Demikianlah ia katakan maksud yang direncanakan pemerintah, agar anak dapat dipantau kembali orang tuanya. Seharusnya, tambah Arief, yang lebih dikhawatirkan ketika anak bermain di luar rumah dari pada lingkungan sekolah.

 

“Sekalipun disekolah belum tentu aman juga, namun paling tidak bisa meminimalisir. Banyak yang tidak setuju dengan berbagai alasan, salah satunya anak tidak dapat ngaji jika terus-terusan di sekolah. Kan guru ngaji bisa diundang ke sekolah,” pungkasnya. (sny/eza)

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 22 Oktober 2018 08:12
Nurul Diah, Pelaku Pembuangan Bayi Ketakutan

Kuasa Hukum Ajukan Penangguhan Penahanan

SYOK  dan ketakutan masih dialami Nurul Diah (18), pelaku pembuangan sekaligus pembunuhan bayi…

Minggu, 21 Oktober 2018 09:35

ASTAGA..!! Bayi Dibunuh Ibu Kandung Sendiri, Mayatnya Dibuang ke Toilet Bandara

BALIKPAPAN  -  Sungguh tega. Jasad bayi mungil tak berdosa ditemukan tewas dibuang di toilet…

Minggu, 21 Oktober 2018 09:24

Ibu Pembuang Bayi di Toilet Bandara SAMS Itu Bisa Dijerat 15 Tahun Penjara

BALIKPAPAN - Kasus penemuan jasad bayi laki-laki di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan…

Minggu, 21 Oktober 2018 09:20

BISANYA TUH NAH..!! Orangtua Tak Tahu Anaknya Hamil

KEHAMILAN Nurul Diah (18) rupanya berhasil ditutupi selama sembilan bulan hingga dirinya melahirkan…

Minggu, 21 Oktober 2018 09:18

Pemkot Bakal Obati Kaum LGBT, Gimana Caranya?

BALIKPAPAN - Selain upaya sweeping yang bakal dilakukan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF), Pemkot…

Minggu, 21 Oktober 2018 09:16

Kabel AC Korslet, Sekolah Pramugari Nyaris Ludes

BALIKPAPAN - Warga Sepinggan, Jalan Syarifuddin Yoes RT 1, Balikpapan Selatan ini mendadak dihebohkan…

Minggu, 21 Oktober 2018 09:12

Baru Bebas, Residivis Narkoba Dibekuk Lagi

TANA PASER – Nasib sial menimpa seorang residivis Narkoba berinisial SP (37). Baru sebulan menghirup…

Minggu, 21 Oktober 2018 09:11

Monyet Belanda Terjaga, Kebanjiran Turis Asing

Tak hanya mencegah abrasi, keberadaan kawasan konservasi Mangrove Center Graha Indah di Balikpapan Utara…

Minggu, 21 Oktober 2018 09:08

Lulusan Tekhnik, Beralih Pimpin Dunia Pendidikan

MUHAIMIN merupakan salah satu pemuda yang memiliki karir gemilang sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:19

GNPF Siap Sweeping LGBT

BALIKPAPAN  –  Kalangan LGBT (Lesbi, Gay, Biseks dan Transgender) harus bersiap-siap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .