MANAGED BY:
JUMAT
14 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

POROS SELATAN

Minggu, 14 Januari 2018 09:34
Kaum Muslimin Mesti Melek Politik

PROKAL.CO, BALIKPAPAN -Tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun panas. Bagaimana tidak, tahun dimana suhu politik memanas, pesta demokrasi pemilihan pilkada, pileg sampai presiden menanti.

Aktivis dakwah Balikpapan Surya Fribady, menganggap menarik melihat kondisi kaum muslim indonesia, dimulai dari Pilgub DKI Jakarta. Segmen pemilih ini kata Surya, tak bisa dianggap sebelah mata lagi, terlepas dari kontreversi isu SARA (suku, ras, agama dan antar golongan) sampai anti Bhineka.

"Yang pasti kekuatan umat islam yang bersatu tak bisa ditandingi. Bak Bola salju, gelombang ini sepertinya terus membesar di tengah gesekan ketidak adilan, kejahatan dan lain sebagainya," kata Surya yang juga Direktur Lembaga Saku Sahabat Nurul Fikri Balikpapan ini.

Ya, bola salju turunan itu untuk melakukan aksi nyata dalam membela Islam secara komprehensif, tidak saja nilai normatif ajaran Islam, tetapi juga implementasinya sekaligus.

"Berbagai kegiatan keumatan pun mulai ramai membahas tentang perlunya dibangun kekuatan ekonomi, pendidikan, dakwah, bahkan politik dewasa kini," ucapnya. 

Secara teoritis, kata Surya, umat telah mengetahui adanya momentum. Dalam bidang politik, telah mengetahui adanya "momentum pasar atau segmentasi basis". Artinya, kunci bangkit telah diketahui, tinggal diikuti secara nyata dengan partisipasi aktif. 

"Ini hal yang baik sebenarnya, kaum muslimin Indonesia sudah sepantasnya bersatu menjadi gelombang besar yang mengubah arah bangsa ini menuju perbaikan," katanya. 

Menurut Surya, tradisi perpolitikan kaum muslimin dari waktu ke wakt pun selalu memberi arti, baik dari masa sebelum kemerdekaan dengan membentuk Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI), Sarekat Islam (SI), dan lain sebagainya. Bahkan kata Surya, sejak negeri ini merdeka gerakan perpolitikan islam seolah tak berhenti memberi sumbangih perbaikan untuk negeri, berdirinya Partai Masyumi, Partai NU, bahkan sampai kini. 

"Dari rahim lembaga politik atau partai islam tersebut pun lahir tokoh-tokoh muslim indonesia yang berprestatif, bukan hanya di kancah nasional bahkan international seperti Agus Salim, M Natsir dan lainnya," sebutnya.

"Namun sayang di era dekade 60an, eksistensi perpolitikan kaum muslimin menurun, banyak pengarusnya, mulai dari serangan lawan politik, konspirasi dan penyebaran pemahaman sekuleristik ala orientalis Snocke Hergonjhe yang memisahkan antara ibadah (akhirat) dengan kehidupan dunia," sambungnya.

Surya mengutik bukunya The Achenes (Orang-Orang Aceh), Hergonjhe mengatakan silahkan kalian orang islam serius dengan masjid kalian, adapun pasar, ladang, sumber daya alam biar kami kelola. Menurut Surya hal tersebut, merupakan pembodohan, kaum muslimin dibuat buta dengan politik, akhirnya perlahan mulai kehilangan peran. Belum lagi ajaran sufisitik atau tasafuw yang menekankan pola hidup individualis, dimana mereka mengambil jarak dari kehidupan dunia yang mereka anggap kotor untuk kemudian fokus hanya pada penyucian jiwa. 

Bahkan tak berhenti di situ, banyak bermunculan syubhat di kalangan kaum muslimin, akhirnya mencela politik habis-habisan, mengharamkan bahkan melabelkan neraka bagi pelakunya. 

"Ini berlangsung sampai era 90-an. Ketika reformasi kesadaran berpolitik mulai terbangun. Banyak partai bermunculan termaksud partai islam. Dan kami melihat kesadaran berpolitik ini kian menguat sampai klimaksnya di Pilgub DKI Jakarta tahun lalu," sebutnya.  

Seurya melanjutkan, menarik kemudian melihat peta kaum muslimin kini. Menurut Surya, kesadaran tentang pentingnya politik ini mesti jadi semangat zaman (zetgist) untuk membangkitkan umat, menjayakan indonesia di kancah dunia. Pemilih muslim yang baik kata Surya, mesti akan memilih calon pemimpinnya dari kalangan yang baik pula, tanpa beban, tanpa iming-iming apapun. 

"Semuanya berjalan naturan karena agama memang mengajarkan hal tersebut. Kami pikir ini bisa jadi mmomentum juga baik bagi demokrasi indonesis yang sarat uang, dan tindakan curang lainnya," bebernya.

Kembali ke persoalan semua, imbuh Surya, sebagai orang islam, tentu bertanya apa politik ini, seberapa buruknya, seberapa penting perannya, sampai harus membuka pemahaman tentangnya.

"Sebagai orang menjelaskan secara simple bahwasannya politik adalah seni kepemimpinan, seni pengaturan, seni pemanfaatan. Namun pemahaman seperti ini menjadi samar, karena publik secara umum maupun kaum muslimin dengan pemahaman sempit mendefinisikan bukan secara naratif namun aplikatif," imbuhnya.

Mengartikan secara aplikatif, ini menyebabkan mereka bersifat antipati terhadap politik. Mereka kata dia, lebih mengartikan apa yang ia lihat, prilaku kotor, licik, serakah, korupsi, dan lainnya yang ditonjolkan oleh segelintir aktor politik seolah menjadi arti dari politik itu. Maka timbulah prilaku pukul rata alias generalisir terhadap politik, baik itu aktor maupun lembaga semua adalah himpunan orang-orang kotor yang berkubang dalam lumpur najis bernama politik.

Padahal kata dia, kalau mau mendefinisikan politik secara naratif, antata agama dan politik seperti saudara. 

“Agama dan kekuasaan adalah dua hal saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang dan lenyap," ungkapnya.

Disebutkan, sesungguhnya politik adalah benda netral, bahkan baik. Para aktor pelakunyakah yang seringkali mengotorinya dengan mengatasnamakan politik. Disamping itu, lanjut dia, bahwa Islam yang berada di luar kekuasaan adalah Islam yang tidak lengkap atau umat Islam yang tidak terus mengupayakan terwujudnya negara adalah umat Islam yang tidak berbuat yang sesungguhnya demi Islam. 

"Maksudnya, kelompok Islam moderat berpandangan bahwa Islam dan politik tidak dapat dipisahkan, karena mereka percaya bahwa Islam yang berada di luar kekuasaan adalah Islam yang tidak lengkap," terangnya. 

Untuk itu, syariat Islam menurut Surya, relevan untuk semua zaman, kondisi dan tempat. Kerelevansian syariat Islam ini banyak ditunjukan dalil-dalil Qath’i, baik berupa wahyu, bukti sejarah maupun bukti realistis.

"Organisasi politik bukanlah persoalan ditetapkan oleh ajaran Islam, melainkan oleh situasi dan waktu. Maka Politik dalam islam juga berfungsi untuk mengejewantahkan rahmatan lil alamin, menebar rahmat Allah SWT di muka bumi," sebutnya.

Terakhir, politik menjadi sarana, bayangkan jika negara ini dengan segala komponen, yakni sistem pemerintahan, manusia, tanah berikut segala kandungannya diekelola secara profesional berdasyarkan hukum syariat. 

Kekuasaan dan kewenangan berada di tangan pemimpin muslim yang shalih layaknya Umar bin Khattab, yang berani, bertanggung jawab dan amat takut kepada Allah.

"Pengambilan keputusan dilakukan melalui mekanisme syura' serta ijtihad para ulama yang pakar. Saya yakin keadilan dan kesejahteraan yang diharapkan akan benar-benar terwujud dan bukan janji kampanye belaka. Semoga kaum muslimin semakin sadar dan bersatu, bahu membahu dalam mengambil momentum besar perpolitikan ini," pungkasnya. (tur/rus)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 13 Desember 2018 08:30

RAWAN LAKALANTAS

Tanjakan MT Haryono acap kali menjadi petaka bagi para pengendara…

Kamis, 13 Desember 2018 08:29

Balikpapan Peringkat Pertama Keterbukaan Informasi

SAMARINDA   -  Kota Balikpapan tak henti-hentinya meraih prestasi di tingkat…

Kamis, 13 Desember 2018 08:28

GONOL WAL..!! Kaltim Terima Dana Desa Rp 2,2 T

SAMARINDA  - Gubernur Kaltim Isran Noor menerima Daftar Isian Pelaksanaan…

Kamis, 13 Desember 2018 08:28

Khawatir Melanggar HAM

BALIKPAPAN   -  Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi cukup berhati-hati…

Kamis, 13 Desember 2018 08:27

Pasar Pandansari Semakin Semrawut

BALIKPAPAN  –  Sejumlah pengunjung kondisi pasar Pandansari, Kelurahan Margasari, Balikpapan…

Kamis, 13 Desember 2018 08:25

KPU Cocokan Nama Caleg yang Siap Dicetak

BALIKPAPAN  –  Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan pencocokan nama-nama caleg…

Kamis, 13 Desember 2018 08:25

Galian Jargas Belum Ditutup, Warga Diminta Bersabar

BALIKPAPAN   -  Keluhan soal galian jaringan gas (jargas) terus…

Kamis, 13 Desember 2018 08:24

ENAK COYYY..!! 2019, Gaji PNS Naik 5 Persen

Pada tahun 2019 ada kenaikan gaji pokok pegawai negeri sipil…

Rabu, 12 Desember 2018 08:34

PLN UIW Kaltim Sumbang Bibit Pohon dan Tong Sampah

BALIKPAPAN  -  Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Balikpapan, PT PLN…

Rabu, 12 Desember 2018 08:32

2019, PDAM Targetkan 3.500 Sambungan Rumah

BALIKPAPAN   -   Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Manggar menargetkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .