MANAGED BY:
MINGGU
18 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

BALIKPAPAN

Rabu, 14 Februari 2018 09:36
Agar Jambret Tak Terjadi Lagi

Oleh:Riva Mulfiasari Praktisi Pendidikan Islam

PROKAL.CO, Sebagai seorang wanita, tinggal di Kota Balikpapan kini sudah merasa tak aman dan nyaman lagi. Pasalnya, beberapa minggu terakhir ini banyak kasus jambret yang terjadi. Dilansir dari Procal.CO Balikpapan (09/02), Ada siswi SMKN 2, driver ojek online, dan lebih gilanya lagi, seorang nenek dijadikan sasaran. Umiyah (68), kini telantar di Balikpapan setelah tasnya berisi uang dijambret.

Beragam alasan yang dikemukakan oleh pelaku jambret ini. Beberapa pelakunya adalah pendatang.  Ada yang terdesak karena kondisi ekonomi. Ada yang karena keluarganya sakit. Pun ada juga yang alasannya masih belum diketahui.

Procal.CO Balikpapan (09/02), Syamsul Arif (35), yang awalnya bekerja sebagai tukang bakso. Dengan alasan harus menghidupi keluarganya di Malang, apalagi anaknya yang masih kecil sedang sakit sehingga butuh biaya banyak, Syamsul Arif banting setir menjadi penjambret. Dia melancarkan aksinya seorang diri di kawasan Batakan, Balikpapan Timur, 2 Februari lalu. Sasarannya wanita yang naik motor dengan barang berharga.

Perilaku jambret sendiri dapat dikategorikan sebagai perilaku kriminal. Menurut beberapa ahli, penyebab perilaku kriminal dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.Kemiskinan merupakan penyebab dari revolusi dan kriminalitas; 2.Kesempatan untuk menjadi pencuri (Sir Francis Bacon, 1600-an); 3.Kehendak bebas, keputusan yang hedonistik, dan kegagalan dalam melakukan kontrak sosial (Voltaire & Rousseau, 1700-an); 4. Atavistic trait atau  sifat-sifat antisosial bawaan sebagai penyebab perilaku criminal (Cesare  Lombroso, 1835-1909); 5.Hukuman yang diberikan pada pelaku tidak proporsional (Teoritisi Klasik Lain).

Dari seluruh faktor, ekonomi adalah faktor yang paling dominan menjadi penyebab perilaku kriminal. Hal ini sejalan dengan peristiwa turunnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Menurut sample data BPS, Balikpapan menempati angka pengangguran tertinggi kedua se-Kaltim. Tercatat angka pengangguran 2017 di Kota Balikpapan mencapai 31.000 orang atau 10,39 persen dari jumlah angkatan kerja yang mencapai 298 ribu jiwa. Angka itu meningkat bila dibandingkan 2015. Ada pun angka pengangguran pada 2015 hanya 5,95 persen atau sekira 16 ribu jiwa.

Hal ini tentu berdampak besar dengan apa yang terjadi di Balikpapan. Tingginya angka pengangguran, mahalnya harga barang pokok, naiknya TDL, BBM dan sebagainya membuat masyarakat Balikpapan mengeluh dan harus berpikir jauh untuk mengatasinya sendiri. Angka kriminalitas pun ikut meningkat, seperti narkoba, pelecehan dalam angkot serta jambret yang semakin mencuat beberapa minggu terakhir ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sistem ekonomi yang digunakan di Indonesia adalah sistem ekonomi kapitalis-sekuler. Hal yang paling menonjol dari sistem ini adalah bentuk persaingan bebas dan segala kepimilikan dikembalikan kepada individu. Negara tidak memiliki peran besar di dalamnya. Masyarakat didorong untuk bersaing sendiri baik secara lokal dan global. Ditambah dengan ciri sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan termasuk segala bentuk aktifitas jual beli, membuat para pelaku ekonomi jauh dari keimanan dan ketaqwaan. Menggali keuntungan sebesar-besarnya harus dicapai dengan segala cara. Akibatnya, banyak usaha ekonomi menengah ke bawah yang gulung tikar. Perusahaan besar pun demikian. Hingga ahirnya meyebabkan banyak pengangguran dan meningkatnya kriminalitas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang kian membengkak.

Untuk memenuhi berbagai kebutuhan di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi yang carut-marut  ini, wajar jika banyak yang kemudian banting setir usahanya menjadi jambret. Meskipun memang tidak ada yang membenarkan perilaku menjambret. Namun jika kita ingin serius menyelasaikan permasalahan, maka menggali alasan lebih mendalam pun tentu harus kita perhatikan. Akhirnya, dapat disimpulka bahwa akar masalah dari semua peristiwa ini adalah karena sistem ekonomi kapitalisme-sekuler.

Islam memiliki cara tersendiri dalam mencegah dan menyelasaikan kriminalitas. Ada upaya preventif dan kuratif yang dilakukan, yakni Pertama, Islam menanamkan tiap individu untuk bertakwa kepada Allah SWT. Dengan memiliki iman dan ketaqwaan maka individu tidak akan mudah dipengaruhi oleh tindak kriminalitas disekitarnya. Ia juga takut dengan azab dari tindakan maksiat yang diperbuat. Kedua, masyarakat juga akan dikondisikan agar tidak mudah terbawa prinsip hedonistik yang harus dipenuhi dan dapat mengarah pada tindak kriminal. Ketiga, Negara menerapkan sistem ekonomi Islam. Negara akan memberikan lapangan kerja seluas-luasnya bagi masyarakat dengan cara mengelola sumber daya alam (SDA) bukan dari tangan asing. Menjamin kesejahteraan masyarakat dan memberikan sanksi tegas pada perilaku kriminal. Mencuri akan dipotong tangannya sebanyak yang ia curi.

Negara akan mengevaluasi balik apabila ada masyarakatnya yang melakukan tindakan kejahatan. Apakah karena masyarakatnya sedang mengalami kelaparan, harga barang yang terlalu tinggi dan sebagainya. Apabila segala aspek kebutuhan masyarakat telah dipenuhi oleh Negara dan masih ada yang melakukan kriminalitas, maka sanksi tegaslah yang akan ia dapatkan. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Sudahlah tidak memberi efek jera, kebutuhan masyarakat pun tak dipenuhi. Wajar kriminalitas ada di sana-sini.

Dengan demikian, maka jelaslah hanya dengan syariah Islam yang mampu menyelesaikan aneka macam tindak kriminal termasuk jambret. Semua sanksi dan aturan Islam yang telah ditetapkan tersebut tidak mungkin terlaksana apabila tidak diterapkan institusi yang menerapkan Islam secara keseluruhan. Sejarah telah mencatat selama kurang lebih 13 abad, jumlah kasus kriminal yang tercatat hanya sejumlah 200 kasus. Itu berarti dalam satu tahun bisa tidak terjadi kasus kriminal sama sekali. Hal ini hanya akan dapat terwujud apabila Negara menerapkan sistem Islam secara keseluruhan. Wallahu’aalam.(*/vie)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 17 Februari 2018 09:05

Rayakan Valentine, Diduga Berbuat Mesum

BALIKPAPAN  -  Hari kasih sayang atau yang dikenal dengan Valentine Day yang biasa dirayakan…

Sabtu, 17 Februari 2018 09:03

Imlek, Harga Kebutuhan Pokok Tak Terlalu Bergejolak

BALIKPAPAN  -   Sejumlah harga kebutuhan pokok di pasar tradisional Klandasan merangkak…

Sabtu, 17 Februari 2018 09:02

Weekend, Pasar Karang Joang Ramai Pengunjung

BALIKPAPAN  -   Di hari biasa, kondisi pengunjung Pasar Rakyat Karang Joang yang terletak…

Sabtu, 17 Februari 2018 09:01

Dua Sekolah Usulkan Pembuatan Pagar dan Jaringan Internet

BALIKPAPAN  -  Musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) tingkat kecamatan yang digelar…

Sabtu, 17 Februari 2018 09:01

Drainase di RT 41 Jadi Prioritas Margo Mulyo

BALIKPAPAN -  Sejumlah usulan dari hasil musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) di tingkat…

Sabtu, 17 Februari 2018 09:00

Petani Minta Diprioritaskan

BALIKPAPAN  –  Di Hari Jadi ke-121 Kota Balikpapan, petani sayur Teritip Kuswanto berharap…

Sabtu, 17 Februari 2018 08:59

Libur Imlek, Pantai Manggar Sepi

BALIKPAPAN   -  Libur nasional dalam rangka tahun baru Imlek ternyata tidak memberikan…

Sabtu, 17 Februari 2018 08:59

Lamaru Sinergi Jaga Kamtibmas

BALIKPAPAN  -  Kondusifnya keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di tingkat RT, tergantung…

Sabtu, 17 Februari 2018 08:21

Imlek, Berkah Pemain Barongsai

BAGI  warga Tionghoa, atraksi barongsai jadi hiburan wajib saat perayaan Imlek, tak terkecuali…

Jumat, 16 Februari 2018 08:49

Warga Prapatan Diingatkan Bahaya Difteri

BALIKPAPAN   -   Pihak Kelurahan Prapatan bersama mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) Universitas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .