MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

POROS SELATAN

Rabu, 21 Februari 2018 10:04
Banyak Objek Wisata, Kunjungan Perjalanan Digoyang Jalan Rusak

Empat Jam Lebih Menembus Kabupaten PPU (Bagian-2)

JELAJAHI PPU: Gabungan hasher Balikpapan saat mengunjungi sejumlah objek wisata di Penajam Paser Utara.

PROKAL.CO, class="m-7124952634948047517p2">KURANG  afdal bila berkunjung ke objek wisata air terjun belum basah kuyup. Mandi menjadi impian wisatawan yang datang. Kendati air Tembinus tidak sebening kolam renang, air berwarna teh susu pucat di udara terbuka nan sejuk tetap saja menggoda hati. Byur, pengunjung terjun ke air dangkal berbatu licin. 

 APAKAH  hanya Tembinus yang jadi incaran? Adakah objek wisata lain yang sekali jalan bisa ditengok? Bila ada, tentu dada menjadi lapang. Pengetahuan bertambah. Atau membuat keingintahuan terlunasi dan sebanding dengan biaya yang dikuras dari kocek, ditambah waktu terbuang cukup lama. 

 Andai saja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) melirik, lantas mengolah potensi wisata di Semoi, Sepaku, Petung, Jenebora, Maridan dan sekitarnya sampai kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Paser, akan banyak sekali ditemukan objek wisata yang menjadi ladang subur mengisi pundi-pundi pendapatan asli daerah (PAD). Juga menambah penghasilan rakyat PPU. 

Trio warga Sepaku, Pak Bima, Taufik, dan Bangun Sucita. Yang seorang pendatang dari Bima, seorang lagi anak transmigrasi, dan si muda ini memang warga Sepaku bergantian meyakinkan saya tentang alam Semoi dan Sepaku yang perawan tulen. Walau sudah berdandan, kemajuan seiring masuknya transmigrasi di era Presiden Soeharto dan makin matang di era teknologi komunikasi yang bertebaran di dunia maya. 

Taufik yang ikut kedua orangtuanya bertransmigrasi pada 23 Maret 1977 ke Sepaku yakin, makin dicari tentu makin banyak objek wisata ditemukan.

“Di sini, yang indah-indah itu banyak, akeh tenan (banyak sekali, Red) Mas. Tembinus ini, baru satu. Yang lain masih ada,” ujar putra pasangan Buyamin dan Siti Nafiah, diselingi bahasa Jawa yang mulai tergerus dan campur aduk dengan bahasa suku lainnya.

Lelaki yang sudah ogah kembali ke tanah kelahirannya di Jawa mengaku, objek wisata di PPU seperti harta karun yang tersembunyi rapi di sela hutan belantara. Walau sebagian sudah mulai terbuka. 

Di PPU, sebut ayah dari dua putri ini, juga ada agrowisata. Ada kawasan konservasi, ada kawasan pembibitan hutan tanaman industri. Belum lagi flora dan fauna yang terbilang langka. 

Pak Bima menyahut, bila sampai ke wilayah Kutai Kartanegara, pengunjung rugi besar bila tak mampir ke Bukit Bengkirai. Di objek wisata dan konservasi ini, pengunjung dapat meniti naik ke canopy bridge (jembatan tajuk) sepanjang 64 meter yang menggantung di lima pohon. Sembari memandang hamparan pohon di hutan alam tropika basah yang menghijau. 

Bertandang ke wahana riset Samboja, bagi seorang peneliti tentu akan tertarik dengan tempat rehabilitasi orangutan, mamalia langka asli Kalimantan yang nasibnya kadang tragis.

Pada bulan Februari ini, seekor orangutan ditemukan tewas mengenaskan di Taman Nasional Kutai (TNK). Tubuhnya ditembus 130 butir peluru senjata angin. Tidak terbilang sedikit kasus kematian memilukan binatang ini, termasuk binatang lainnya. 

Bincang soal satwa penghuni Sepaku dan Semoi, Pak Bima mengatakan, inilah kawasan nyaman tempat bermukim orangutan, beruang madu, musang berjanggut. Ada pula berbagai primata, macan tutul, macan dahan, babi, aneka burung, termasuk juga burung khas Kalimantan, enggang yang gerakannya menginspirasi seniman Dayak menjadi tarian yang artistik.

“Bekantan juga ada. Mereka banyak di hutan bakau Jenebora, saya dulu sering melihat monyet Belanda ini (disebut begitu, karena berhidung mancung dibungkus bulu abu-abu kekuningan) bila ke Jenebora,” sahut Taufik. 

Selain hewan yang terjaga baik, kata orang yang hijrah dari Bima mengadu nasib di belantara Sepaku ini, pepohonan juga terjaga baik. Sehingga, tamu masih bisa menemukan pohon berusia ratusan tahun tumbuh baik di Semoi dan Sepaku. 

“Kalau nanti Bapak dan Ibu ke luar dari air terjun dan membelok ke kiri, masuk ke kawasan 46 masih dapat menemukan pohon agatis yang sangat besar,” kata dia. 

Lingkar batang pohon langka agatis di sektor 46 itu, setara dengan pelukan empat laki-laki dewasa. Tajuknya menjulang puluhan meter. Begitu juga sejumlah pohon lainnya, seperti bengkirai merah, kuning dan putih; keruing, ulin si kayu besi, sungkai, pinang, juga kayu pahlawan hingga rotan yang melingkar di antara pepohonan. 

“Ada ratusan jenis kayu di sini, tentu kami sulit menyebut satu demi satu namanya,” kata Bangun, si petugas pemadam kebakaran Pemkab PPU ini. 

 

TERKENDALA JALAN

Kebanggaan ketiga warga kepada Sepaku dan Semoi ini masih berhadapan dengan infrastruktur yang kurang memuaskan. Jalan yang menjadi urat nadi dan pembuka simpul ekonomi sebagian besar rusak biasa hingga parah, terutama bila hujan turun. 

Tiga kendaraan kami melaju sempurna ketika membelok ke kiri di Km 38, Samboja, Kutai Kartanegara menuju Bukit Bengkirai. Nah, saat berada di kawasan Semoi PPU, mobil yang ditumpangi para hasher mulai diadang jalan yang rusak. Hukumnya wajib bagi sopir memilih dan memilah jalan yang lumayan baik agar kepala penumpang tidak menyentuh kap mobil. 

Saat ban mobil merayap di jalan dilapisi beton, sopir tancap gas. Okelah bisa memberi napas tambahan.  Nanti dulu, paling banter hanya sejauh lima kilometer. Ketika ban menyentuh jalan aspal, lagi-lagi mobil mulai diombang-ambing gelombang jalan yang rusak. 

Kerusakan jalan sebagian akibat beban yang disandang jalan sangat berat. Mobil truk pengangkut beban puluhan ton melindas badan jalan yang kelas dan mutunya hanya untuk kendaraan niaga dan pribadi kecil. 

Ini cerita kami di dalam mobil. Sementara musik yang dilantunkan radio KPFM di 95,4 mengudara dengan  musik bergenre pop diimbuhi canda dua penyiar yang populer dengan sapaan “bosku”, tubuh sopir dan lima penumpang justru meliuk bagai penari dangdut pantura. 

Blas (sama sekali), ora serasi banget (sangat tidak serasi). Kok musiknya pop, kita malah joget dangdut,” canda Pak Toto dengan logat Jawa hingga tawa kami pun pecah berderai. 

Malangnya, bila sopir kurang hati-hati, apalagi baru kali ini kami merambah jalan Semoi-Sepaku, empat ban mobil bisa terperosok di lubang sedalam 50 sentimeter, goyangan menggila.

“Astagfirullah! Kalau wanita kebelet melahirkan sudah bukaan tujuh, pasti melahirkan di jalan,” timpal Ata disusul tawa, yang lain juga tertawa. 

Canda dan tawa jadi penghibur kami. Candaan makin jadi. Jalan rusak juga makin banyak yang harus dilalui. Terkadang mobil kami berhenti sejenak, bila berpapasan di jalan rusak dengan mobil lain.

Apalagi, mobil truk pengangkut tandan kelapa sawit, mengangkut alat berat, atau beban lain. Sabar, saling mengalah dan memberi harus dilakukan. 

“Semoga jalan kami bisa diperbaiki,” harap Taufik. 

Saya mengiyakan, kala Taufik bertanya, apakah itu jalan milik provinsi? Lalu dia berkata, “Ya, kalau gitu, kami berharap pemerintah provinsi (Kaltim) wajib tanggung jawab. ‘Kan ndak mampu kalau kabupaten (maksudnya Kabupaten PPU) yang memperbaiki.”

Di sepanjang jalan saat pergi dan pulang ke Balikpapan, ada saja warga yang gotong royong menambal dan menyulam jalan rusak dengan batu gunung ditutup tanah. Tentu membuat kami iba dan jadi tahu diri. Kami pun memberi imbalan atas jerih payah warga. Walau mereka tidak juga meminta, apalagi menentukan tarif tertentu. (munir asnawi/rus/k1)

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 17 Desember 2018 08:44

MEGAPROYEK

Jalan tol sepanjang 99,35 km yang menghubungkan Balikpapan-Samarinda ini ditargetkan…

Senin, 17 Desember 2018 08:42

Diduga Tak Sesuai Mekanisme

BALIKPAPAN  -  Pembongkaran Kantor Kecamatan Balikpapan Tengah (Balteng) dan Kelurahan…

Senin, 17 Desember 2018 08:41

Solar Langka dan Cuaca Buruk, Tangkapan Nelayan Menurun

BALIKPAPAN   -   Sejumlah nelayan kembali mengeluhkan kurangnya stok…

Senin, 17 Desember 2018 08:39

PP 17/2018 Terbit, Pemkot Bisa Bentuk UPT DPU Kecamatan

BALIKPAPAN   -   Anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Andi Arif Agung,…

Senin, 17 Desember 2018 08:38

2019, PHKT Targetkan Produksi Minyak 20 Ribu BOEPD

BALIKPAPAN   -  Setelah resmi mengambil alih kelola wilayah kerja…

Senin, 17 Desember 2018 08:38

Proyek Jembatan Kembar Molor

SAMARINDA   -  Penyelesaian pembangunan Jembatan Kembar di Samarinda tidak…

Senin, 17 Desember 2018 08:37

Gubernur Isran Senang APBD Kaltim Naik 20 Persen

SAMARINDA   -  Gubernur Isran Noor mengungkapkan kegembiraannya karena APBD…

Senin, 17 Desember 2018 08:36

PKL Pandansari Sering “Kucing-kucingan”

BALIKPAPAN   -  Pasar Pandansari di Kelurahan Margasari, Balikpapan Barat,…

Minggu, 16 Desember 2018 09:00

Banjir Masih “Menghantui” Kota Minyak

BALIKPAPAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan menilai, banjir…

Minggu, 16 Desember 2018 08:55

20 Persen APBD Kaltim 2019 untuk Pengembangan SDM

BALIKPAPAN - APBD Kaltim 2019 telah disahkan sebesar Rp 10,53…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .