MANAGED BY:
KAMIS
20 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

POROS SELATAN

Kamis, 22 Februari 2018 09:41
Transmigran Pelopori Kemajuan Semoi dan Sepaku

Empat Jam Menembus Kabupaten PPU (Bagian 3/Habis)

EXPLORE PPU : Taufik, bersama Pak Bima, Bangun Sucita didampingi hasher Johny Sose.

PROKAL.CO, class="m1344730805392013090p1">Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terhampar di pelataran penumpukan buah sawit. Warnanya cokelat hitam kekuningan. Di sisi kiri jalan masuk menuju pelataran penumpukan, tertancap plang di gundukan tanah bertuliskan TBS Rp 1.275. Ini menandakan harga per kilo tandan buah segar pada hari itu. Pemandangan ini terlihat sejak mobil kami menembus batas Semoi, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sampai Sepaku II.

 

BEBERAPA  pekerja dengan keringat bercucuran membasahi baju dan celana, melego tandan kelapa sawit dari truk ke pelataran penumpukan pertanda tandan kelapa sawit baru saja dipanen dari kebun. Tapi, ada juga yang mengangkat pengait berisi tandan buah segar ke dalam truk yang siap diangkut ke pabrik. 

 

Mata telanjang kami nanar menatap kehijauan tanaman kelapa sawit dan persawahan di kiri dan kanan jalan, hingga membuat sejuk pandangan mata dari bias matahari pagi. Sesekali mobil yang kami tumpangi berpapasan dengan truk pengangkut buah kelapa sawit di jalan yang agak rusak.

Tidak jauh dari aktivitas lego-melego TBS, di sisi kanan dan kiri jalan di belakang rumah, toko dan rumah toko (ruko) penduduk, para petani bercaping menutup kepala agar wajah mereka bebas dari sengatan mentari pagi. Ada yang menyiangi dan memupuk sawah, tapi ada juga yang sedang memanen padi di sawah yang terhampar luas.

 

Mobil kami membelok ke kiri di Sepaku II, lalu berhenti dan rehat sejenak di dekat sebuah warung rawon. Warung, toko, ruko dan pasar masih ramai pengunjung. Aktivitas jual beli pada pukul 10.30 masih menggeliat. Begitulah kehidupan masyarakat Sepaku, yang konon sebagian besar adalah warga transmigrasi dan selebihnya penduduk setempat dan pendatang. 

Ingatan saya menerawang ke belakang sekira tahun 1970-an. Pemerintah orde baru dalam program Rencana Pembangunan Dua Puluh Lima Tahun (Repelita) menetapkan program transmigrasi menjadi program unggulan. Tapi, toh ada yang mencibir dan menyamakan program itu sebagai pemindahan kemiskinan.  Bahkan dicap gagal.

Melihat kemajuan ekonomi Semoi dan Sepaku, dua wilayah penempatan transmigran asal Jawa, saya jadi bertanya-tanya, apakah program pemerintah orde baru itu gagal total atau berhasil?

Jawabannya saya temukan pada diri Taufik, anak transmigran asal Jawa. 

“Siapa yang bilang program transmigrasi Presiden Soeharto gagal? Banyak anak transmigran yang sukses di Sepaku ini,” katanya tanpa ragu-ragu. 

Pekerja harian lepas yang menyebut dirinya tak sesukses kawan-kawannya sesama anak transmigrasi ini berkata, “Yang gagal itu mereka yang tidak sabar, ogah kerja keras, dan tidak tahan banting.” 

Dia bercerita, pada awal penempatan di tahun 1977, tiap keluarga transmigran mendapat dua hektare tanah yang belum terolah sempurna. Rumah sederhana dari kayu dan atap seng. Tanah seluas itu menjadi tanggung jawab transmigran untuk menanam sayur-mayur dan padi ladang. 

Tidak semudah saat ini, bila ingin ke Semoi dan Sepaku bisa ditempuh lewat Petung atau Balikpapan dengan kendaraan. Warga transmigrasi harus melintasi laut Teluk Balikpapan dari Kampung Baru menuju Jenebora dan menyusuri Sungai Sepaku, barulah tiba di lokasi transmigrasi.

 

“Lahan dibakar dulu, lalu ditanam padi gunung. Hasilnya baru kami panen enam bulan ke depan. Lah, ‘kan sing ora sabar dan ora gelem nyambut gawe, ya minggat (yang tidak sabar dan tidak mau bekerja, ya pergi),” kata dia. 

Taufik terbungkus pakaian perusahaan berwarna biru mengatakan, tanah yang sudah bersertifikat pemberian pemerintah dijual murah. Uangnya dipakai untuk balik ke Jawa.  Pemerintah niatnya tulus dan baik, ingin peningkatan dan mengubah nasib rakyatnya.

“Yang salah itu, yang ndak sabar dan bersedia kerja keras,” tegas lelaki itu. 

Ada cerita dan dinamika lain warga trans. Katanya, setelah bercocok tanam dan sembari menunggu panen, kepala keluarga mengadu nasib menjadi buruh bangunan dan kerja serabutan di Balikpapan dan Penajam. Hasilnya dikirim kepada istri dan anak di lokasi transmigrasi.

 

“Mereka isin (malu) balik kampung, nanti jadi bambung (gelandangan) lagi,” katanya tertawa renyah, menerawang hidup masa kecilnya menjadi anak trans.

 

Ada juga, ungkap putra Buyamin dan Siti Nafiah ini, yang tetap bertahan di lokasi trans mengusahakan tanah garapan. Untuk menyambung hidup, mereka mengandalkan jaminan hidup (jadup) dari pemerintah berupa beras, garam, dan ikan asin.

“Sayur-mayur dari kebun sendiri. Jadup diberi tahun pertama, tapi dilanjutkan pada tahun kedua,” imbuhnya. 

Tahun demi tahun dilalui. Nasib baik mulai menyapa warga transmigrasi setelah perusahaan kayu dan tanaman industri membuka lahan, apalagi perusahaan lebih suka memanfaatkan tenaga lokal dan trans. 

Tata kelola pengairan tertata rapi, sehingga mereka bisa bercocok tanam dengan baik. Panen pun menjanjikan. Sementara lahan luas yang tidak bisa diusahakan bercocok tanam padi, ditanami kelapa sawit yang memang lagi booming di kawasan PPU dan Paser. 

“Orangtua kami yang tadi jadi buruh bangunan dan kerja serabutan balik lagi ke sini, ada yang tani, ada yang berkebun, ada yang kerja di perusahaan HTI,” terang dia. 

Fajar keemasan mulai menyingsing. Hidup makin menjanjikan. Apalagi, pemerintah membuka akses jalan yang menghubungkan Balikpapan-Petung menjadi simpul penggerak ekonomi. 

Mereka yang tabungannya mulai terisi rupiah, membangun toko, ruko, warung di poros jalan sebagai upaya menambah penghasilan keluarga. Kerja produktif makin nyata, anak-anak menimba ilmu dengan baik, sarana ibadah dibangun, sarana kesehatan ditata, kantor pemerintahan, polsek dan koramil berdiri tegak. Telkom juga ikut membangun sarana dan prasarana. Jadilah kawasan permukiman yang lengkap dan baik. 

“Kita ‘kan lewat jalan tadi. Di kiri dan kanan banyak toko, itu sebagian besar milik anak-anak trans loh,” ungkap dia berbangga hati.

Lelaki berkulit agak gelap yang mendampingi kami ke air terjun Tembinus menjabarkan, anak trans sekarang ini banyak berkarier sebagai pegawai negeri dengan jabatan empuk. Ada yang jadi camat, lurah, dokter, tentara, polisi, dan tidak sedikit jadi pengusaha sukses. Termasuk memegang jabatan bagus di beberapa perusahaan. 

“Saya pastikan separuh buruh wanita yang bekerja di pembibitan PT ITCI Hutani Manunggal anak trans. Jumlah pekerja wanita di situ ribuan orang, ada juga penduduk asli Semoi, Sepaku, Maridan, Jenebora, Petung, dan sekitar sini. PT IHM peduli pada warga PPU,” puji dia. 

Taufik mengaku, keluarga besarnya tinggal dan menetap di Sepaku. Juga kedua putrinya, Iswatur Khasanah dan Maya Fatimah. Keduanya sudah selesai mengenyam pendidikan. 

Uniknya, kata lelaki yang akrab disapa Pak De ini, bila ada keluarga trans menikah dengan sesama trans, pemerintah memberikan lahan dua hektare kepada sejoli itu. Mereka sudah masuk sebagai warga trans lokal. Diberi alat pertanian dan juga 120 batang bibit sawit dan karet.

“Sekarang sih sudah ndak lagi. Karena, sebagian besar lahan di Sepaku dan Semoi ini milik PT Inhutani dan perusahaan lainnya. Lahan mereka berdampingan dengan lahan trans,” jelas dia. 

Lagi, Taufik membantah tudingan transmigrasi gagal. “Mana mungkin Pak Abdul Hamid jauh-jauh datang dari Bima dengan memboyong keluarga mau menetap di Sepaku, andai daerah ini tidak menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Bagaimana Pak Bima?” Pak Bima yang ditanya mengangguk setuju. (munir asnawi/rus/k1)

 

loading...

BACA JUGA

Rabu, 19 September 2018 08:23

Proyek Ini Terkendala Pembebasan Lahan

BALIKPAPAN  -   Persoalan pembebasan lahan di Bendali V, Kelurahan Sepinggan, Balikpapan…

Rabu, 19 September 2018 08:21

Dewan Usulkan Stadion Mewah Ini Dikelola Swasta

BALIKPAPAN  -  Banyaknya bangunan milik Pemkot Balikpapan yang tidak terawat disayangkan Ketua…

Rabu, 19 September 2018 08:19

JANJI LAGI..!! Juni 2019, Pembangunan Transmart Rampung

SAMARINDA  -  Manajer proyek pembangunan Transmart Samarinda, Ratna Indriati mengungkapkan,…

Rabu, 19 September 2018 08:19

Subardiyono Bikin Gebrakan, Aksi Selasa Bersih TPS

BALIKPAPAN  -  Meskipun baru dua minggu menjabat, namun Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan…

Rabu, 19 September 2018 08:17

Usulkan Benahi Pasar Klandasan

BALIKPAPAN  -  Rustam Jasli yang baru saja dilantik sebagai anggota DPRD Balikpapan menggantikan…

Rabu, 19 September 2018 08:16

146 Peserta Lolos TPP

SAMARINDA  -  Rekrutmen tenaga pendamping profesional (TPP) Provinsi Kaltim untuk tahun anggaran…

Rabu, 19 September 2018 08:15

Rustam Resmi Jadi Anggota Legislatif

Politikus Partai Demokrat, Rustam Jasli akhirnya resmi menjadi anggota DPRD Balikpapan periode 2014-2019.…

Selasa, 18 September 2018 07:59

ASRI

Pemerintah kota terus membenahi taman-taman kota di Kota Minyak. Salah satunya, taman kota di samping…

Selasa, 18 September 2018 07:57

ASEEEKK..!! Selama Tujuh Bulan, 640 Pasangan Jadi “Papa-Mama”

BALIKPAPAN  -  Warga Kota Minyak yang menikah selama periode Januari-Juli 2018 mencapai 640…

Selasa, 18 September 2018 07:55

Pelaksanaan Vaksinasi MR Lamban

BALIKPAPAN  -  Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan mengaku, kampanye vaksinasi measles dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .