MANAGED BY:
SABTU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL
Jumat, 23 Maret 2018 08:46
Enam Pemuda Paser Terapkan Teknik Pertanian dari Jepang
TERAPKAN ILMU: Slamet Hariadi (kiri) saat menunjukkan lahan pertaniannya yang menerapkan program dari Jepang

PROKAL.CO, TANA PASER   -   Enam pemuda Paser yang mengikuti Program Indonesia Young Farmer Leader. Yaitu program magang pertanian ke Jepang yang sudah dilakukan selama 34 tahun lamanya. Diantaranya Slamet Hariadi dan Muhammad Supardi, pemuda asal Desa Rantau Panjang Kecamatan Tanah Grogot yang telah mengikuti program magang tersebut selama 1 tahun.

Menurut Slamet, teknik pertanian di Jepang masih bisa diterapkan di Kabupaten Paser. Pasalnya perlakuan petani Jepang terhadap tanaman pertanian tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang dilakukan petani di Paser saat ini. Para alumni magang di Jepang tersebut tergabung dalam Ikatan Alumni Magang Jepang (Ikamaja). Di sini Ikamaja bertekad untuk memajukan kualitas pertanian di Indonesia terkhusus di Kabupaten Paser. Adapun beberapa hal yang menjadi tekadnya adalah Ikamaja siap menjadi pelopor regenerasi petani yang terampil, menjadikan petani yang berorientasi agro bisnis dan siap menjadi poros penggerak petani muda.

 "Kalau di sini petani hanya sekadar bertani saja tanpa memperdulikan kualitas hasilnya. Sedangkan petani di Jepang lebih mengutamakan kualitas hasil, sehingga perlakuannya terhadap tanaman juga berbeda." ujar Slamet, Kamis (22/3)

 Slamet juga membeberkan, pemasaran hasil pertanian di negeri matahari terbit tersebut, petani langsung berkomunikasi dengan pedagang di pasar induk untuk menentukan harga.

 "Di Jepang tidak ada tengkulak yang langsung datang ke petani untuk memborong hasil pertanian. Tapi tengkulak hanya boleh datang dan membeli hasil pertanian di pasar induk. Setelah mendapatkan kesepakatan harga, petani memberikan nomor rekening kepada pedagang. Sedangkan untuk pengiriman buah, ada jasa tersendiri yang menangani secara khusus pengiriman hasil pertanian." jelas Slamet.

 Berbeda dengan di Indonesia khususnya Kabupaten Paser, tengkulak sudah biasa memborong hasil panen langsung ke petani. Ditambahkan Supardi, yang membedakan hanya penggunaan teknologi, sedangkan sistem kerja untuk saat ini juga bisa disamakan.

 "Untuk penggunaan teknologi di Paser bisa juga menerapkan yang sama, asalkan SDM yang ada dan anggaran yang dimiliki sudah sesuai," kata Supardi. 

 Lebih lanjut Supardi mengungkapkan, pihaknya sangat membutuhkan dukungan pemerintah dalam hal komunikasi searah terkait dengan program pertanian pemerintah. "Kemarin sudah ada surat dari Kementrian Pertanian yang disampaikan kepada Dinas Pertanian Paser.  Perihalnya fasilitasi dan bimbingan program pasca magang. Hal tersebut dinilai sangat penting, Dengan dilaksanakannya program pasca magang diharapkan pemuda di Paser bisa lebih tertarik dan berminat untuk mengembangkan usaha pertanian yang bernilai agro bisnis," ujar Supardi sembari menilai semangat pemuda untuk petani di Paser masih sangat minim. (ian/cal)

 

loading...

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .