MANAGED BY:
SENIN
23 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

UTAMA

Sabtu, 14 April 2018 07:18
Pendidikan Karakter Diabaikan, Negara Bisa Bubar

Ngobras Wartawan bersama Abraham Samad

RAMAH: Abraham Samad saat melakukan pertemuan dengan awak media Kota Minyak.

PROKAL.CO, Setelah tak lagi menjabat sebagai ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad kini fokus menyampaikan berbagai seminar kepada para mahasiswa. Di Kaltim, tiga kampus dikunjunginya, yakni Universitas Tujuh Belas Agustus, Universitas Mulawarman, dan Universitas Balikpapan.

 HAMDAN

Santai, murah senyum namun tegas. Sikap itu diperlihatkan Abraham Samad saat ngobras (ngobrol santai) bersama awak media di Kota Minyak, Kamis (12/4) lalu. Dia menunjukkan semangat yang luar biasa saat membahas soal pendidikan karakter. Sebuah hal yang perlu dimiliki para pemuda, bila tidak ingin terus-menerus menjadi budak koruptor.

Menurut dia, memenjarakan semua koruptor merupakan suatu kewajiban. Sayangnya, sang koruptor setelah bebas bisa saja kembali melakukan perbuatan yang sama. Penyebabnya, karena seseorang tidak memiliki karakter kuat.

Semua kalangan di manapun bekerja, Abraham mengingatkan, mau tua atau muda bisa saja berpotensi korupsi. Apa penyebabnya? Pria berdarah Makassar ini menjelaskan, pola pendidikan sekarang hanya fokus mengajarkan pendidikan formal. Mestinya juga ditopang oleh pendidikan berintegritas.

“Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pemberantasan korupsi. Fase penindakan, pencegahan baik sistem tata kelola provinsi maupun pemerintah kota. Fase ketiga paling menentukan, yaitu pembentukan generasi integritas. Ini sebenarnya yang wajib dilakukan,” ulas Abraham Samad.

Salah satu kasus, dia mencontohkan, ada seseorang yang berusia 28 tahun yang belum beristri, artinya belum memiliki tanggung jawab yang besar tapi justru melakukan korupsi. Itu semua disebabkan moralitas dan integritas tidak dibentuk sejak dini.

“Di negara lain, seperti Jepang dan Finlandia, sistem pendidikan mengutamakan pendidikan karakter sejak dini,” sebut dia.

Pendidikan formal, tambahnya lagi, hanya 40 persen sementara sisanya 60 persen pendidikan karakter. Tak heran, bila Indonesia bisa juara olimpiade sains dan segala macamnya, karena negara luar lebih mementingkan pendidikan karakter. Dampaknya pada masa akan datang, generasi tersebut tidak melakukan hal konyol. Beda halnya di Indonesia, pendidikan formal dituntut setinggi mungkin. Bahkan, pendidikan anak usia dini (PAUD) sudah diajarkan belajar dan menulis.

“Mestinya umur segitu masih diberikan nilai-nilai karakter yang baik,” kritiknya.

Contoh lain, dia melanjutkan, seseorang yang telah dewasa namun tidak memiliki pendidikan karakter. Orang tersebut diduga telah melakukan korupsi, namun berupaya melakukan skenario seperti menabrakkan mobilnya ke tiang listrik karena tidak punya integritas yang kuat.

“Saya tidak bangga kalau juara sains olimpiade atau semacamnya. Karena apa? Belum tentu memiliki integritas kuat, kalau tidak ditopang pendidikan karakter. Tentu kelak akan bisa mengelabui orang. Sekarang rata-rata para pemimpin lemah karakternya, karena tak ada pendidikan karakter yang didapat,” jelasnya.

Dahulu, kata Abraham Samad, dirinya masih ingat saat tinggal di sebuah desa di Makassar. Setiap pulang sekolah, di rumah selalu diajarkan nilai-nilai karakter yang baik. Bila mengaca kondisi saat ini, tentu sudah tidak bisa lagi mengingat perkembangan yang ada.

Tentunya itu menjadi tanggung jawab pemerintah agar bisa melakukan aturan sejak dini diberikan pendidikan karakter. Sebab, sekolah dasar masih ada saja syarat untuk masuk, yakni bisa membaca dan menulis. Imbasnya, di PAUD masih ada promo dijamin bisa membaca dan belajar.

“Padahal, hal tersebut bisa didapat dengan sendirinya. Yang perlu dilakukan bagaimana pendidikan karakter itu bisa didapat sejak dini,” tandas dia.

Makanya jangan heran, sambung dia, bila sekarang banyak penyimpangan seperti kaum lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT); seks bebas, maupun penyalahgunaan narkoba. Dari survei para milenial sekarang, unsur medsos menjadi salah satu rujukan nilai dan dijadikan komunitas dan tentunya ini berbahaya.

“Hal tersebut wajar terjadi, apalagi di kota-kota besar. Anak sangat minim berinteraksi dengan orangtua. Kesibukan sebagai pekerja,” seloroh dia.

Dia kembali membandingkan Indonesia dengan Jepang dan Finlandia. Di kedua negara tersebut, usia dini diberikan pelajaran bagaimana berinteraksi di rumah. Artinya, suasana di rumah dibawa ke sekolah. Sehingga terkesan saat menimba ilmu di sekolah suasananya tetap seperti di rumah. “Nah, dengan begitu, tentu tak canggung untuk berinteraksi dengan orangtua,” tandasnya.

Lebih lanjut Abraham Samad menerangkan, pernah mengikuti pendidikan zaman modern. Anaknya dimasukkan ke sekolah elite tanpa menyebut sekolah mana yang dituju. Ketika itu, anaknya hanya mendengar kalimat-kalimat kekayaan. Saat libur akan tiba, yang dibahas hanyalah berlibur ke daerah atau luar negeri mana lagi nanti. “Tentu nilai sosial tidak didapat,” imbuhnya.

Akhirnya, dia memutuskan anaknya dipindah ke sekolah sederhana. Terbukti nilai-nilai sosial diperoleh sehingga membentuk karakter anak. Ketika sang buah hati melihat ada salah satu temannya pergi ke sekolah tidak menggunakan sepatu, anaknya langsung tergerak untuk membantu. Bahkan, meminta uang ke orangtua agar bisa membelikan sepatu baru kepada temannya. “Ini yang dinamakan pendidikan karakter,” ujar dia.

Selain itu, dia mengingatkan, tak perlu minder ketika seseorang berada di keluarga tidak mampu. Karena justru seperti itu banyak nilai sosial yang didapat. “Ibu saya pendidikannya biasa saja, tapi pernah memberikan nilai luar biasa. Bukan siapa-siapa tapi memberikan contoh kejujuran, keadilan, dan empati kepada orang lain,” ungkap Abraham Samad.

Dia tidak yakin jika negara bubar hanya karena krisis ekonomi ataupun bom atom akibat peperangan. Tapi yang bikin negara hancur bila generasi muda tidak memiliki pendidikan karakter.

“Inilah alasan saya datang ke kampus-kampus hanya untuk membentuk pola pikir mereka. Sudah beberapa provinsi yang saya datangi. Setelah Kaltim, saya akan ke Jakarta dan Jogjakarta. Jangan sampai tunggu tahun 2030 untuk melakukan ini,” tuntasnya. (*/yud/k1)

loading...

BACA JUGA

Senin, 23 April 2018 09:06

Pipa Terakhir Berhasil Diangkat

BALIKPAPAN  -  Pengangkatan barang bukti berupa pipa distribusi minyak mentah Pertamina dari…

Senin, 23 April 2018 09:04

Polsek Batu Sopang Cokok Pengedar Pil Koplo

TANA PASER  -  Jajaran Opsnal Reskrim Polsek Batu Sopang pada Jumat (20/4) sekira pukul 18.00…

Senin, 23 April 2018 09:03

Perempuan Jangan Bermalas-malasan

UNTUK  memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April, beberapa selebritas kenamaan tanah air…

Senin, 23 April 2018 09:01

Usung Pencabutan Perpres TKA

JAKARTA  -   Kalangan pekerja akan mengangkat isu kebijakan tenaga kerja asing (TKA)…

Senin, 23 April 2018 09:00

Ratusan Botol Bir dan Tuak Disita

BALIKPAPAN  -   Polsek Balikpapan Utara melakukan pengamanan terhadap ratusan botol miras…

Senin, 23 April 2018 08:58

DLH Bakal Usut Pelaku

BALIKPAPAN   -  Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) jenis metanol ditemukan di tempat…

Senin, 23 April 2018 08:53

Advokat Pertanyakan Proses Hukum Kliennya

BALIKPAPAN  -  Sengketa bangunan di Jalan MT Haryono, RT 59, Kelurahan Gunung Bahagia (kini…

Senin, 23 April 2018 08:48

Gila Basket

Bagong dan Mono adalah dua sahabat yang menggilai basket. Bagi mereka berdua, tiada hari tanpa basket.…

Senin, 23 April 2018 08:48

Ditinggal Cari Elpiji Melon, Rumah Jadi Arang

BALIKPAPAN  -  Awas, si jago merah kembali berulah. Pada bulan April ini, kebakaran sudah…

Minggu, 22 April 2018 10:27

PENGGOROK GURU KELIARAN..!!! Warga Gang Makmur Ketakutan

BALIKPAPAN - Warga yang berdomisili di Gang Makmur, Jalan Sepinggan Baru II, RT 16, Kelurahan Sepinggan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .