MANAGED BY:
RABU
23 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

POROS SELATAN

Minggu, 22 April 2018 09:23
Kartini Dulu, Kini, dan Nanti
Yohana Yembise

PROKAL.CO, JAKARTA -“Orang mencoba membohongi kami, bahwa tidak kawin itu bukan hanya aib, melainkan dosa besar pula. Telah berulang kali itu dikatakan kepada kami. Aduhai! Dengan menghina sekali orang sering kali membicarakan perempuan yang membujang!”

Sepenggal cerita ini adalah kisah yang diceritakan oleh Raden Ajeng (RA) Kartini dalam suratnya yang diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Cerita RA Kartini tentang perempuan di masa lalu ini menggambarkan bagaimana kaum perempuan menjadi hina jika berstatus tidak kawin.

Kawin menjadi standar seorang perempuan dihargai di masa lampau. Mirisnya, banyak kaum perempuan yang kawin bukan karena kehendak sendiri. Tetapi justru karena tuntutan budaya. Kartini berkisah, “Kami anak-anak perempuan tidak boleh mempunyai pendapat, kami harus menerima dan menyetujui serta mengamini semua yang dianggap baik oleh orang lain. Bahwa tahu, mengerti, dan menginginkan itu dosa bagi anak perempuan”.

Lalu, apakah nasib yang dialami Kartini dan perempuan di masa lampau masih dialami kaum perempuan di masa kini?

Council of Foreign Relations mencatat, Indonesia merupakan salah satu dari sepuluh negara atau tepatnya di urutan ketujuh dengan angka absolut pengantin anak tertinggi di dunia dan tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016 telah melakukan riset mengenai jenjang pendidikan yang ditempuh oleh perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin, yang melakukan perkawinan di bawah atau di atas 18 tahun.

Hasilnya cukup memprihatinkan, sebesar 94,72 persen perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin yang melakukan perkawinan di bawah usia 18 tahun putus sekolah. Sementara yang masih bersekolah hanya sebesar 4,38 persen.

Miris, kaum perempuan masih dibayangi momok untuk melakukan perkawinan pada usia muda. Tidak hanya pada zaman Kartini, tapi juga zaman now.

“Perkawinan bukanlah hal yang buruk jika dilakukan pada usia yang tepat dengan persiapan yang matang. Perkawinan pada usia anak justru akan membawa permasalahan baru bagi kaum perempuan. Dimulai dari hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, risiko ancaman dari penyakit reproduksi, seperti kanker serviks dan kanker payudara; juga hidup dalam keretakan keluarga karena ketidaksiapan mental mereka dalam membangun keluarga sehingga menimbulkan perceraian,” ungkap Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise.

“Saya berharap kaum perempuan muda Indonesia mampu menentukan masa depannya dengan mengutamakan pendidikan. Kalianlah para penerus estafet mimpi-mimpi RA Kartini untuk memajukan bangsa. Kaum perempuan mampu berkarya tidak hanya melulu dengan urusan sumur, dapur, kasur; tetapi juga di ranah publik. Saya optimis kaum perempuan yang menjadi Kartini masa kini mampu meneruskan mimpi Kartini di masa yang akan datang,” tambah Menteri Yohana.

Tepat pada hari peringatan Hari Kartini ini, Menteri Yohana berharap, ke depannya tidak ada perkawinan yang terjadi pada anak perempuan yang belum siap menjalani perkawinan.

“Mari kita setop perkawinan anak, kaum perempuan mampu berdiri di kaki sendiri dan menentukan masa depannya sendiri. Jangan pernah berhenti berkarya kaum perempuan Indonesia,” ungkap Menteri Yohana.

RA Kartini pun turut berpesan, tetapi kalau angkatan muda bersatu, dapatlah kiranya kami dengan kekuatan yang bersatu mewujudkan sesuatu yang baik. Dan terhadap pendidikan itu, janganlah hanya akal yang dipertajam, tetapi budi pun harus dipertinggi. (**/han/rus/k1)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 23 Mei 2018 08:43

Serunya Wisata Religi di Dahor Heritage

BALIKPAPAN  -  Aktivitas positif terus diperlihatkan Dahor Heritage, museum berbentuk rumah…

Rabu, 23 Mei 2018 08:40

Sekwan Tak Perlu Mengundurkan Diri

BALIKPAPAN   -   Adanya kabar pengunduran diri Sekretaris DPRD (Sekwan) Balikpapan,…

Rabu, 23 Mei 2018 08:39

Transportasi Belum Maksimal Dishub Siapkan Damri ke Bandara

SAMARINDA   -  Mengantisipasi padatnya hilir-mudik penumpang di Bandara APT Pranoto atau lebih…

Rabu, 23 Mei 2018 08:37

Sekda Tunggu Instruksi Plt Wali Kota

BALIKPAPAN   -  Sekretaris Daerah (Sekda) Sayid MN Fadli mengaku telah menerima surat pengunduran…

Rabu, 23 Mei 2018 08:37

Volume Sampah Capai 420 Ton Per Hari

BALIKPAPAN   -  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) perlu menambah tenaga untuk mengangkut sampah…

Rabu, 23 Mei 2018 08:34

Ganti Rugi Dampak Pencemaran Minyak sebelum Lebaran

PENAJAM  -  Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) telah menyerahkan data-data nelayan…

Rabu, 23 Mei 2018 08:33

Dimas, Warga Damai Penderita Gizi Buruk

Dimas Krisna Sunaryo begitu gembira ketika Balikpapan Pos mengunjungi rumahnya di kawasan RT 5, Nomor…

Selasa, 22 Mei 2018 09:13

INDAHNYA BERBAGI

Hari kelima puasa, Senin (21/5), menjadi awal pembagian bingkisan sembako dan uang tunai program Paket…

Selasa, 22 Mei 2018 09:11

Diduga Ada Intervensi Penggunaan Anggaran

BALIKPAPAN   -   Kabar mengejutkan muncul dari kelembagaan DPRD Balikpapan. Salah…

Selasa, 22 Mei 2018 09:09

Kaji dan Telusuri Alasan Mundur

BALIKPAPAN  -  Pemkot telah menerima surat pengunduran Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Balikpapan,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .