MANAGED BY:
JUMAT
14 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

BISNIS

Kamis, 11 Oktober 2018 07:59
Pengusaha Eksportir Harus Pintar-Pintar

Manfaatkan Momentum Dolar Menguat dan Neraca Perdagangan Kaltim Surplus

Slamet Brotosiswoyo

PROKAL.CO, BALIKPAPAN  –  Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah diharapkan bisa dimaksimalkan pengusaha Kaltim yang bergerak di bidang eksportir. Terlebih, hingga Agustus lalu neraca perdagangan Kaltim surplus sebesar USD 9,16 miliar.

 Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim Slamet Brotosiswoyo mengatakan, momen penguatan dolar harus menguntungkan eksportir migas, batu bara, dan minyak sawit di Kaltim. “Kalau dilihat data BPS (Badan Pusat Statistik) Kaltim, neraca perdagangan kita masih surplus, artinya ekspor kita ini masih bagus. Kalau nasional kan defisit. Kita harus memanfaatkan peluang ini. Di sisi lain, batu bara dan minyak dunia harganya terus menguat,” tuturnya, Rabu (10/10).

 Diketahui, BPS Kaltim mencatat neraca perdagangan Kaltim pada Agustus 2018 surplus sebesar USD 0,86 miliar, lebih kecil jika dibanding surplus Juli 2018 sebesar USD 1,30 miliar. Sedangkan secara kumulatif, neraca perdagangan Bumi Etam periode Januari-Agustus 2018 surplus sebesar USD 9,16 miliar.

 Nilai ekspor Kaltim Agustus mencapai USD 1,40 miliar atau mengalami penurunan sebesar 14,03 persen dibanding dengan ekspor Juli 2018. Sementara bila dibanding Agustus 2017 mengalami penurunan sebesar 4,05 persen.

 Secara rinci, ekspor barang migas mencapai USD 0,24 miliar, turun 9,96 persen. Sementara ekspor barang non migas periode sama mencapai USD 1,15 miliar, turun 14,85 persen dibanding Juli. Secara kumulatif, nilai ekspor Bumi Etam Januari hingga Agustus mencapai USD 12,06 miliar atau naik 8,03 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Ekspor barang migas mencapai USD 2,18 miliar atau naik 20,32 persen dan barang non migas mencapai USD 9,88 miliar atau naik 17,22 persen dibanding periode sebelumnya.

 Untuk impor Kaltim pada Agustus mencapai USD 0,54 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 67,21 persen. Secara kumulatif nilai impor mencapai USD 2,90 miliar atau naik sebesar 50,45 persen dibanding periode yang sama 2017. Dari seluruh impor periode Januari-Agustus, impor barang migas mencapai USD 2,08 miliar atau naik 45,72 persen dan barang nonmigas mencapai USD 0,82 miliar, naik 64,02 persen.

 Pengusaha tentu menggunakan momentum penguatan dolar untuk membesarkan volume ekspor. Tapi hal ini perlu juga waktu untuk pengembangan pasar dan penetrasi, serta penambahan kapasitas utilisasi. Dilihat lagi pasar di negara tujuan mau atau tidak.

 Slamet belum bisa menyebut secara pasti berapa persen volume ekspor yang akan ditambah ketika rupiah terus melemah seperti ini. Hal tersebut bergantung pada komitmen pembeli. "Menaikkan berapa persen belum tahu sebelum ada komitmen pembeli untuk menaikkan jumlah barang yang mereka impor," katanya.

 Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk, Suherman mengakui, kenaikan dolar ini menguntungkan bagi batu bara. Jika ditanya pasar domestik atau luar negeri, jelas luar negeri. “Saat ini komposisi kami 60 persen ekspor dan 40 persen konsumsi dalam negeri. Kemungkinan porsi ekspor bisa bertambah seiring penguatan dolar dan batu bara. Konsumsi domestik dari pemerintah menekannya hanya 25 persen. Porsi kami untuk domestik kami sudah lebih,” serunya.

 Saat ini, nilai tukar rupiah mulai kembali menguat. Data Bloomberg mencatat Rupiah hari ini, Rabu (10/10) dibuka menguat 0,13 persen menjadi Rp 15.217 per USD. Pada Rabu (10/10) kemarin kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah berada di level Rp 15.215 per USD.

 Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo disela-sela acara pertemuan internasional IMF-WB 2018 di Nusa Dua Bali mengatakan nilai tukar rupiah bergerak pada fundamentalnya. "Kita masih lihat pergerakan rupiah secara dinamis terjadi di pasar. Itu tetap dalam batas fundamental kita," kata Doddy, Rabu (10/10).

 Dia menegaskan bahwa bank sentral dan pemerintah tidak akan diam terhadap dinamika nilai tukar. Sejumlah langkah sudah disiapkan meski hari ini mengalami perbaikan. "Kita lakukan secara kombinasi dari pengoptimalan dengan cadev (cadangan devisa) dan gradual depreciaton. Jadi kita lakukan," tuturnya.

 Terkait Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018 yang sedang berlangsung saat ini, diharapkan bisa menemukan solusi dari berbagai permasalahan ekonomi global yang turut berdampak terhadap keperkasaan dolar AS. "Tapi yang sedikit berbeda semua lembaga internasional berkumpul di sini untuk mencari solusi. Mungkin bukan solusi yang kuat tapi understanding bersama," tandasnya.

 Analis CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, belum usainya permasalahan global, baik dari perang dagang AS dan Tiongkok, penyelesaian defisit anggaran Italia, hingga meningkatnya imbal hasil obligasi AS membuat posisi USD masih cenderung meningkat. “Diperkirakan Rupiah akan bergerak di kisaran 15.235-15.220. Kondisi ini tentunya mempersulit pergerakan rupiah untuk berbalik naik,” tuturnya.

 Reza menjelaskan, pergerakan rupiah kembali mengalami pelemahan seiring masih bergerak naiknya laju USD. Memanasnya hubungan AS dan Tiongkok terkait dengan belum tercapainya kesepakatan dagang yang diikuti.

 “Saling berbalas komentar antar pejabat di antara keduanya yang dilanjutkan dengan kebijakan bank sentral Tiongkok, yang memangkas cadangan rasio di perbankan Tiongkok membuat mata uang CNY melemah sehingga berimbas pada sejumlah mata uang lainnya, termasuk rupiah,” tuturnya.

 Dengan pelemahan tersebut, kata Reza, membuka kesempatan pada USD untuk bergerak naik. Belum lagi, permasalahan penyelesaian defisit anggaran Italia yang belum juga usai yang melemahkan EUR turut membuat laju USD bergerak naik.

 Sementara itu, lanjutnya, sentimen negatif lainnya ialah rilis lembaga IMF seiring meningkatnya tensi perdagangan dan tekanan pada pasar negara berkembang (emerging market), memangkas proyeksi pertumbuhan global untuk tahun ini dan tahun depan.

 Adanya keyakinan Menkeu, Sri Mulyani, bahwa Indonesia masih dapat mencapai target 5,3 persen kendati risiko untuk pertumbuhan tersebut telah makin meningkat belum banyak memberikan sentimen positif pada rupiah. (aji/ndu2/k18/kpg/rus)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 13 Desember 2018 07:51

New CBR150R Ditanami Teknologi ABS dan ESS

BALIKPAPAN   -  Astra Motor Honda Balikpapan resmi meluncurkan CBR150R…

Kamis, 13 Desember 2018 07:49

Alquran Literasi di TB Hanifa

PUSAT   perbelanjaan Rapak Plaza Balikpapan selain menjual pakaian dan…

Kamis, 13 Desember 2018 07:47

2019, Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh 5,2 Persen

JAKARTA    -  Bank Mandiri memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di…

Kamis, 13 Desember 2018 07:46

Pemerintah Dorong Digitalisasi Pasar Tradisional

JAKARTA   –  Pemerintah berkomitmen untuk mempercepat upaya digitalisasi terhadap…

Rabu, 12 Desember 2018 07:45

Penjualan Otomotif Membaik

JAKARTA   –   Pasar otomotif sepanjang tahun ini diprediksi membaik.…

Rabu, 12 Desember 2018 07:44

Hingga Akhir 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor

JAKARTA   -   Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir…

Rabu, 12 Desember 2018 07:42

Penerimaan Pajak Masih Kurang 20 Persen

JAKARTA   -   Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan…

Rabu, 12 Desember 2018 07:41

Potensi Belum Tergarap Optimal

SURABAYA   –   Bisnis maritim Indonesia hingga kini menjadi…

Selasa, 11 Desember 2018 07:43

Ajak Masyarakat Move On hingga Resmikan Depot Avtur

BALIKPAPAN  -  Di tengah momentum peringatan HUT ke-61, PT Pertamina…

Selasa, 11 Desember 2018 07:40

Momen Dongkrak Pendapatan

BALIKPAPAN   -   Momen perayaan Natal dan Tahun Baru…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .