MANAGED BY:
MINGGU
24 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

UTAMA

Jumat, 12 Oktober 2018 08:06
Awas! LGBT Sudah Jadi Gaya Hidup

PROKAL.CO, BALIKPAPAN  -  Seorang psikolog di Kota Minyak, Patria Rahmawaty menilai fenomena lesbi, gay, biseks, dan transgender (LGBT) ibarat gunung es. Hanya sedikit yang mampu terlihat, tetapi sebenarnya telah banyak anggotanya. Bahkan, mereka membentuk komunitas-komunitas antar sesamanya.

 “Karena ini sepertinya bukan lagi seperti kelainan seksual, tapi sudah seperti gaya hidup akibat dari pergaulan bebas,” ujar perempuan yang akrab disapa Patria ini, kemarin (11/10).

 Terlebih lagi, LGBT bukan termasuk masalah kejiwaan. Sebenarnya untuk beberapa negara sudah ada yang mendukung komunitas ini, bahkan mereka mendukung akan pernikahan sejenis. Namun, di Indonesia sifatnya masih tertutup.

 “Kalau tidak salah, ada 22 negara yang mendukung. Di antaranya Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Spanyol, Kanada,” sebut dia.

 Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat tentang religitas, budaya bangsa, serta norma-norma masyarakat yang bertindak sebagai filter. Karena perilaku ini bukanlah hal positif, terlebih bagi proses pendidikan dan karakter anak bangsa.

 “Ini perilaku hedonisme yang melanggar aturan agama maupun norma-norma kesusilaan di masyarakat. Mereka bukan semata-mata karena genetika atau hormonal, tapi adanya perilaku yang menyimpang dalam pola pergaulan yang salah,” ulas Patria.

 Menurutnya, banyak faktor penyebab yang membuat mereka menjadi LGBT. Faktor keluarga menjadi salah satu pencetus, karena penerimaan dari keluarga yang tidak sesuai. Contohnya, orangtua menginginkan anak perempuan tapi dapatnya anak laki-laki. Kemudian dalam kehidupan sehari-hari diperlukan seperti perempuan, mulai pakaian dan pola permainannya. Hal ini yang dapat membuat anak akan terjerumus ke dalam komunitas ini.

 Selain itu, faktor lingkungan juga dapat memengaruhi. Biasanya salah satu teman mereka menjadi member atau ikut dalam komunitas LGBT tersebut, secara otomatis anak itu akan terikut arus dan masuk dalam komunitas menyimpang ini.

 “Karena pasti akan mulai mengenalkan tentang dunia LGBT, terutama apabila anak menemukan kenikmatan atau kesesuaian dalam pola pergaulan. Awalnya anak bukan penganut LGBT, namun apabila terus-terusan berada dalam lingkungan seperti itu, lama-lama bisa mengubah cara berpikirnya dan akhirnya terpengaruh,” ungkap dosen Politeknik Negeri Balikpapan ini.

 Namun, ada juga pandangan secara media yang mengatakan, LGBT ini karena faktor hormonal dari tiap individu yang komposisinya tidak sesuai dengan jenis kelamin mereka. Sebab, menurut media, LGBT ini bukan karena perilaku yang salah atau bukan karena penyakit menular.

 Oleh sebab itu, peran orangtua sangatlah penting. Orangtua harus peka dan cermat terhadap perkembangan tumbuh kembang anaknya sejak usia dini. Karena perilaku orangtua memengaruhi pembentukan konsep diri anak, baik secara fisik maupun psikologisnya.

 “Sebijaksana mungkin orangtua harus mengenali karakter anak-anaknya, melakukan pendekatan persuasif pada anak. Terutama tentang pengetahuan mereka akan peran jenis kelamin mereka. Bukan saja memberikan pengetahuan pendidikan seksual pada anak remaja, tetapi lebih menjelaskan pada fungsi dan peran mereka dalam kehidupan. Yang tujuannya mereka mempunyai konsep diri yang positif secara psikologis, fisik dan sosial dengan berlandaskan pengetahuan agama sebagai filter mereka dalam pergaulan,” jelasnya.

 Namun yang menjadi permasalahan saat ini, yakni masih adanya asumsi dari masyarakat bahwa pendidik seksual kepada anak itu merupakan mengajarkan tentang seks. Asumsi itu salah. Pemberian pendidikan seksual ini untuk memberikan pengetahuan akan fungsi mereka. Agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas atau pergaulan yang salah.

 “Orangtua memberikan pengetahuan agar diri mereka tidak melewati batas yang semestinya. Orangtua juga cermat dengan siapa anak bergaul. Bukan investigasi, tapi mengenali teman dan dunia remaja mereka. Dengan begitu dapat menghindarkan anak terjerumus dalam komunitas LGBT ini,” tutup dia. (pri/yud/k1)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 23 Februari 2019 11:11

KASIHANNYA..!! Kenapa Ini, Puluhan Kucing di Wika Mati

 BALIKPAPAN-Puluhan ekor kucing peliharaan warga Perumahan Wika, RT 9 Cluster…

Sabtu, 23 Februari 2019 11:09

Tim URC Ciduk “Budak” Sabu

BALIKPAPAN-Seorang penyalahguna narkoba jenis sabu kembali diringkus tim Unit Reaksi…

Sabtu, 23 Februari 2019 11:05

Manjat, Penghuni Rudenim Berusaha Kabur

BALIKPAPAN-Tujuh warga negara asing (WNA) asal Afganistan yang menghuni Rumah…

Sabtu, 23 Februari 2019 11:01

Polisi-Dishub Bakal Razia Sopir Angkot

BALIKPAPAN-Tabrak lari di Jalan Soekarno-Hatta, depan Rapak Plaza, pada Rabu…

Jumat, 22 Februari 2019 11:25

Ipong Mulai Jalani Sidang

BALIKPAPAN-Hampir tiga bulan sejak kebakaran yang menewaskan tiga orang di…

Jumat, 22 Februari 2019 11:23

Polisi Masih Lengkapi Berkas

BALIKPAPAN-Penyidik dari Sat Reskrim Polres Balikpapan mengaku masih melengkapi berkas…

Jumat, 22 Februari 2019 11:22

Jual Telur dan Ayam Wajib Ditimbang

BALIKPAPAN - Tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kota Balikpapan yang…

Jumat, 22 Februari 2019 11:20

Penyidik Masih Melakukan Pendalaman

BALIKPAPAN – Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Kaltim, Kombes…

Jumat, 22 Februari 2019 11:18

Diseruduk Angkot, Nenek Pemulung Tewas

BALIKPAPAN –Malang nian nasib yang dialami seorang pemulung lanjut usia,…

Jumat, 22 Februari 2019 11:13
Kasus Tilang “Cabai” sampai ke Kapolri

Dua Oknum Polisi Dibebastugaskan

"Sudah kami temui pihak sopir di rumahnya, di Kukar. Sudah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*