MANAGED BY:
RABU
16 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

BISNIS

Senin, 19 November 2018 09:41
Rupiah Menguat, Pemerintah dan BI Harus Tetap Antisipatif

PROKAL.CO, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menguat sejak awal pekan ketiga November 2018. Meski begitu, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) diminta harus tetap antisipatif. Akhir pekan kedua November 2018, rupiah digambarkan sebagai valuta paling perkasa di Asia karena mengalami penguatan sampai 70 poin, atau 0,48% terhadap dolar AS. Pada Jumat (16/11), nilai tukar rupiah sudah memasuki level Rp 14.595 dan Rp 14.665.

"Nilai tukar valuta masih akan fluktuatif karena pasar uang terus dibayang-bayangi oleh rencana bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed), menaikkan suku bunga acuannya, Fed Fund Rate (FFR), hingga 2019 mendatang," ujar Ketua DPR Bambang Soesatyo.

Proses penguatan nilai tukar rupiah saat ini tentu tak bisa dilepaskan dari langkah BI menaikkan bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen, belum lama ini. Namun, proses penguatan rupiah saat ini diasumsikan temporer. Rupiah – dolar AS pada dasarnya belum menemukan keseimbangan baru, terutama karena Fed masih akan menaikkan bunga acuan ke level 3,25 persen hingga 2019, dari posisi dua persen saat ini.

"Memang, proses penguatan rupiah saat ini berhasil menumbuhkan optimisme berbagai kalangan. Namun, nilai tukar valuta diperkirakan masih akan fluktuatif karena pasar masih terus mengantisipasi langkah-langkah the Fed berikutnya," tutur pria yang karib disapa Bamsoet ini.

Karena itu, pemerintah dan BI diharapkan selalu antisipatif menghadapi potensi gejolak nilai tukar di pasar uang. Diyakini bahwa baik BI maupun pemerintah sudah menyiapkan langkah antisipatif guna meminimalisir potensi arus keluar dana asing (Capital outflow).

Namun, jauh lebih penting adalah menyiapkan efektivitas strategi berkomunikasi dengan publik agar depresiasi rupiah berikutnya dan capital outflow tidak menimbulkan kegelisahan publik.

"Ketika perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian seperti sekarang ini, menjaga optimisme publik menjadi sangat penting. Selain adanya potensi gejolak nilai tukar valuta, perekonomian global terus diganggu oleh perang dagang AS versus Tiongkok. Apalagi, perang dagang bisa melebar jika AS juga membidik Jepang," tandasnya.(jpnn/cal)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 15 Januari 2019 08:03

Tiket Mahal Diprediksi Awet hingga Juni

BALIKPAPAN   -  Hingga Juni mendatang, ada berbagai momentum yang…

Selasa, 15 Januari 2019 08:01

Tiket Pesawat Melambung, Kapal Laut Menuju Masa Keemasan Lagi

BALIKPAPAN   -  Bukan rahasia lagi jika selama ini penumpang…

Selasa, 15 Januari 2019 08:00

HERO Supermarket Tutup 26 Toko

JAKARTA   -  Supermarket HERO telah menutup 26 toko di…

Selasa, 15 Januari 2019 07:58

Pengamat: Kondisi BUMN Sedang Memprihatinkan

JAKARTA   -  Calon Presiden (Capres) nomor urut 2 Prabowo…

Selasa, 15 Januari 2019 07:58

Ivanka Trump Berpotensi Jadi Presiden Bank Dunia

JAKARTA   -  Posisi Presiden Bank Dunia kini masih kosong…

Senin, 14 Januari 2019 08:31

Kredit Motor dan Mobil DP 0 Persen, Pembiayaan Masih Pikir-Pikir

BALIKPAPAN  -  Kabar gembira bagi masyarakat yang ingin kredit kendaraan…

Senin, 14 Januari 2019 08:29

CSR Pegadaian, IIKP Santuni Anak Yatim dan Lansia

BALIKPAPAN   -  Melalui program peduli, Ikatan Istri Karyawan PT…

Sabtu, 12 Januari 2019 07:42

Lion Air Layani Rute Samarinda-Surabaya

SAMARINDA   –   Rute Lion Samarinda-Surabaya kini telah hadir di…

Sabtu, 12 Januari 2019 07:40

Angkasa Pura Dorong Rute ke Daerah Wisata

BALIKPAPAN  -  PT Angkasa Pura Airport (Persero) I cabang Bandara…

Sabtu, 12 Januari 2019 07:39

Sawit Kena Kampanye Hitam

JAKARTA   -   Produk sawit asal Indonesia terus-terusan diserang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*