MANAGED BY:
MINGGU
26 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

UTAMA

Selasa, 16 April 2019 11:23
Saksi Korban Tegaskan Uangnya Belum Kembali
SAKSI KORBAN: Gino Sakaris (tengah) usai memberikan keterangan saat persidangan di PN Balikpapan. Setelah bersaksi, dia langsung pulang ke Jakarta.

PROKAL.CO, BALIKPAPAN-Sidang dugaan pidana pasal 263 ayat (2) KUHP juncto pasal 64 ayat (1) KUHP tentang Pemalsuan Surat Berkelanjutan dan pasal 3 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan terdakwa Jovinus Kusumadi yang biasa disapa Awi (45), kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan, kemarin (15/4).

Sidang kali ini, jaksa penuntut umum (JPU) Rahmad SH dan tim menghadirkan saksi kunci yang tak lain Gino Sakaris, warga DKI sebagai saksi korban yang melaporkan Awi ke Bareskrim Polri.

Gino adalah komisaris di PT Ocean Multi Power (OMP), rekanan Awi yang masing-masing mempunyai saham 50 persen. Selain itu, JPU juga menghadirkan saksi Ismail Gani, marketing penjualan semen di PT OMP. Sedangkan terdakwa Awi masih didampingi pengacara asal Jakarta, Elsa Syarief dan dua rekannya.

Majelis hakim yang diketuai Ketut Mahardika beranggotakan Minuk Nugraeni SH dan Bambang Wijanarko SH menggali keterangan dari Gino, yang kondisinya berjalan terpincang-pincang dan tangan sebelah kiri mati rasa karena terkena stroke. Meski mengalami stroke, Gino masih gamblang memberikan keterangan serta kuat berdiri dan berjalan beberapa kali di hadapan majelis, untuk menyaksikan barang bukti maupun data yang dibawa terdakwa Awi dan pengacaranya.

Ketika ditanya hakim, Gino menyatakan bahwa dari laporan keuangan yang dilakukan secara investigasi Joko Sidik, ada kejanggalan-kejanggalan dalam perusahaan. Di antaranya, transaksi keuangan perusahaan banyak yang melalui rekening pribadi Awi. Gino juga mengungkapkan, laporan keuangan hanya beberapa kali saja atau tidak rutin. Pengusaha yang banyak menanam modal di beberapa daerah ini juga mengakui, pernah menemukan rekening koran sebuah bank yang di dalamnya penarikan uang perusahaan di PT OMP sebesar Rp 1,1 miliar ke rekening pribadi Awi.  

“Penarikan uang perusahaan tanpa sepengetahuan saya,” ungkap Gino.

Dia juga mengungkapkan, sebenarnya perusahaan mendapatkan laba. “Ya, keuntungan masih kecil di bawah 100 juta. Tapi saya tak pernah dapat bagian,” ungkapnya.  Ditegaskan Gino lagi, modal yang sudah ditanamkan ke PT OMP sebesar Rp 28.920.250.000,00 (dua puluh delapan miliar sembilan ratus dua puluh juta dua ratus lima puluh ribu rupiah) belum kembali.

“Waktu menemukan rekening koran penarikan dana perusahaan, saya bilang ke dia (Awi, Red). Ya sudah, ambil saja sahammu, tapi kembalikan juga uang saya. Sampai saat ini uang saya belum kembali,” ujar Gino.

Pengacara Elza Syarief mencoba menyangkal kesaksian Gino dengan memberikan data transfer. Menurut Elza Syarief, perusahaan OMP pernah mentransfer uang kepada Gino, di antaranya Rp 850 juta dan Rp 2,4 miliar. Elza juga menegaskan, laporan keuangan PT OMP dibuat secara rutin. Elza juga mengutarakan kekesalannya, Gino memakai Joko Sidik untuk mendapatkan data-data perusahaan, yang selanjutnya dipakai sebagai dasar melaporkan Awi ke Bareskrim. Dengan tuduhan, pasal 263 ayat (2) KUHP juncto pasal 64 ayat (1) KUHP tentang Pemalsuan Surat Berkelanjutan dan pasal 3 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

“Joko Sidik bukan orang dalam perusahaan, kenapa kok bisa dapat data perusahaan. Kalau mau mendapatkan data perusahaan, ya, datang ke perusahaan secara resmi melalui RUPS. Operasional perusahaan PT OMP juga diambil saudara Gino tanpa melalui RUPS,” ujar Elza.

Sedangkan saksi Ismail Gani selaku marketing PT OMP mengungkapkan beberapa kejanggalan di PT OMP. Di antaranya, penjualan semen dilakukan PT OJC perusahaan pribadi Awi. Sementara biaya operasional dibebankan kepada PT OMP. Kemudian, aset perusahaan berupa satu unit mobil pompa semen beton senilai Rp 350 juta dijual oleh Awi.

“Juga ada PHK 15 karyawan atas perintah Pak Awi melalui manajer perusahaan, Yanu. Pemecatan 15 karyawan tanpa sepengetahuan Pak Gino.  Kemudian Pak Gino datang, semua urusan karyawan diselesaikan dan 15 karyawan tidak jadi dipecat. Setelah itu, Janu mengundurkan diri, dokumen perusahaan dihilangkan,” beber Ismail Gani.

Usai sidang, Gino menjelaskan, Joko Sidik adalah akuntan dari Kantor Akuntan Maksun yang melakukan  audit secara investigasi. Sehingga audit keuangan ada dua versi, yakni versi akuntan Leo atas permintaan Awi dan audit keuangan Joko Sidik atas permintaan Gino.

 “Audit yang dilakukan Leo adalah secara general. Sedangkan audit oleh Joko Sidik secara investigasi atas permintaan Bareskrim,” jelas Gino.

Mengenai mengambil alih operasional PT OMP, Gino menegaskan, sesuai pasal 118 ayat 1 UU PT bahwa komisaris berhak menjalankan perusahaan dalam kondisi tertentu dan waktu tertentu tanpa melalui RUPS. “Kondisi perusahaan, Pak Awi ‘kan ditahan. Ya, saya ambil alih daripada perusahaan tambah hancur dan memecat karyawan,” bebernya. Gino menegaskan lagi, dirinya tak rela kalau PT OMP terganggu sehingga memecat karyawannya. “Tahun 2017, perusahaan tak mampu membayar gaji dan THR karyawan. Kemudian saya transfer uang ke perusahaan,” ujarnya.

Sedangkan Rp 850 juta yang ditransfer ke rekeningnya, Gino menyatakan, uang untuk pembayaran mesin ready mix yang dibeli perusahaan. “Kalau uang miliaran yang ditransfer ke rekening saya, itu bukan pembagian hasil atau uang modal saya. Itu uang saya yang saya investasikan ke perusahaan Ocean Jetty Balikpapan (OJB).   Pak Awi bikin perusahaan itu, saya invest lagi Rp 7,5 miliar. Ketika terbit akta perusahaan PT OJB, nama saya nggak ada. Ya, saya minta kembali modal saya. Itu pun masih nyangkut Rp 1,2 miliar yang belum kembali,”  pungkas Gino.

Gino Sakaris melaporkan Awi karena mengalami kerugian lebih kurang sebesar Rp 28.920.250.000,00 (dua puluh delapan miliar sembilan ratus dua puluh juta dua ratus lima puluh ribu rupiah).  Dalam kasus ini, terdakwa Awi dikenai dakwaan pasal 263 ayat (2) KUHP juncto pasal 64 ayat (1) KUHP tentang Pemalsuan Surat Berkelanjutan dengan ancaman penjara enam tahun. Juga didakwa pasal 3 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) juncto pasal 65 ayat (1) KUHP, diancam penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar. (**/ono)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 25 Mei 2019 10:36

Si Jago Merah Ludeskan Dua Rumah

BALIKPAPAN-Api kemarin (24/5) berkobar pada siang bolong, sekira pukul 11.30…

Sabtu, 25 Mei 2019 10:33

Satlantas Siapkan Mobil Derek

BALIKPAPAN-Tiga jenis pos akan dibuka jajaran Satuan Lalu Lintas (Satlantas)…

Sabtu, 25 Mei 2019 10:32

Awas! Penggunaan VPN Berbahaya

BALIKPAPAN-Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengeluarkan pernyataan agar warga…

Jumat, 24 Mei 2019 11:27

Pemeran Video Bantah Penculikan Kotak Suara

BALIKPAPAN-Penyidik Polda Kaltim yang menetapkan ND (29) sebagai tersangka penyebaran…

Jumat, 24 Mei 2019 11:25

Caleg PDIP Dilaporkan ke Bawaslu

BALIKPAPAN-Laporan kecurangan kembali masuk ke Kantor Bawaslu Balikpapan. Kemarin (23/5),…

Jumat, 24 Mei 2019 11:24

Rizal: Tak Perlu Demo ke Jakarta

BALIKPAPAN-Aksi demo yang terjadi di Jakarta depan kantor Bawaslu sejak…

Jumat, 24 Mei 2019 11:22

Akhirnya Dilimpahkan Penyidik ke Jaksa

BALIKPAPAN-Sejak bergulir Januari 2019, akhirnya penyidik Satreskrim Polres Balikpapan melimpahkan…

Kamis, 23 Mei 2019 11:20

IRT Penyebar Hoax Jadi Tersangka

BALIKPAPAN-Seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial ND (29) ditetapkan sebagai…

Kamis, 23 Mei 2019 11:18

Puluhan Massa Gelar Aksi Damai

BALIKPAPAN-Aksi damai kemarin (22/5) dilakukan oleh kelompok masyarakat mengatasnamakan Rakyat…

Kamis, 23 Mei 2019 11:15

Medsos Dibatasi, Warga Mengeluh, Netizen Download VPN

BALIKPAPAN-Pemerintah membatasi penggunaan media sosial (medsos) pasca aksi demo yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*