MANAGED BY:
RABU
01 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

UTAMA

Jumat, 22 Juli 2016 10:15
Baharuddin Lopa, Jaksa yang Jujur
Almarhum Baharuddin Lopa

PROKAL.CO, PRIA yang lahir di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar tanggal 27 Agustus 1935 silam itu menjadi teladan karena kepibadiannya yang sederhana dan jujur. Baharuddin Lopa lama menjadi abdi negara, terakhir ia menjabat sebagai Menteri Hukum dan Perundang-undangan yang sekarang berganti nama menjadi Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham). Sebelum itu, ia menjabat sebagai Jaksa Agung.

Sosok Lopa, sangat berbeda dengan kebanyakan pejabat, dia menganggap bekerja itu adalah kejujuran. Kesederhanaan dengan apa yang dimiliki, punya rumah kecil di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Setiap hari berangkat dan pulang bekerja ditemani mobil Toyota Kijang, sangat kontras dengan menteri saat ini. Lopa membeli mobil Toyota Kijang itu secara kredit, dan beliau sendiri mengantar uang cicil per bulannya, bahkan lunas jauh hari sebelum jatuh tempo. Terhadap sikap Lopa, distributor mobil yang notabene temannya sendiri itu merasa kikuk, dan menghormati Lopa.

Keluarganya bahkan dilarang menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi. Pernah ia melarang sang istri pergi ke pasar dengan motor dinas. "Ini motor dinas bukan untuk urusan pribadi," kata Lopa kepada istrinya.

Kisah kejujuran Baharuddin Lopa juga tidak luput dari perhatian. Beliau dikenal sebagai sosok yang tidak gemar menerima hadiah dari orang lain dalam bentuk apapun, termasuk parsel lebaran. Bahkan di suatu ketika, Lopa pernah diberi uang berjumlah 10.000 Dollar AS dari teman seperjuangannya saat sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang telah menjadi seorang pengusaha. Namun beliau mengembalikan uang itu.

Catatan penting dari kisah kejujuran mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan ini yang patut dijadikan teladan bahwa segala sesuatu kehendak atau cita-cita apabila ingin dicapai lebih utama mengandalkan usaha sendiri.

Ketika menjabat Jaksa Tinggi Makassar, Lopa memburu koruptor kakap, akibatnya ia masuk “kotak”, hanya menjadi penasihat Menteri. Ia pernah memburu kasus mantan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988) Presiden Soeharto dengan mendatangi teman-temannya di Kejaksaan Agung, di saat ia menjabat Sekretaris Jenderal Komnas HAM. Lopa menanyakan kemajuan proses perkara Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988) Suharto. Memang akhirnya kasus Presiden Republik Indonesia Kedua itu diajukan ke pengadilan, meskipun hakim gagal mengadilinya karena kendala kesehatan.

Kisah Baharuddin Lopa kemudian menjadi teladan di panggung para pejabat nasional sebagai sosok yang sederhana, jujur, serta memiliki nyali bak harimau. Beliau tegas, dalam hal apapun, termasuk menentukan salah-benar suatu perkara hukum, serta tidak pandang bulu.

Dalam menegakkan hukum dan keadilan, Lopa, jaksa yang hampir tidak punya rasa takut, kecuali kepada Allah. Dia, teladan bagi orang-orang yang berani melawan arus kebobrokan serta pengaruh kapitalisme dan liberalisme dalam hukum.

Sejak menjabat Jaksa Agung, 6 Juni 2001, menggantikan Marzuki Darusman, Lopa bekerja keras untuk memberantas korupsi. Ia bersama staf ahlinya Dr Andi Hamzah dan Prof Dr Achmad Ali serta staf lainnya, bekerja hingga pukul 23.00 setiap hari. Lopa memburu Sjamsul Nursalim yang sedang dirawat di Jepang dan Prajogo Pangestu yang dirawat di Singapura agar segera pulang ke Jakarta. Lopa juga memutuskan untuk mencekal Marimutu Sinivasan. Namun ketiga konglomerat “hitam” tersebut mendapat penangguhan proses pemeriksaan langsung dari Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001) Gus Dur.

Lopa juga menyidik keterlibatan Pendiri Meta Epsi Drilling Company (Medco) Arifin Panigoro, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tandjung, dan Nurdin Halid dalam kasus korupsi. Gebrakan Lopa itu sempat dinilai bernuansa politik oleh berbagai kalangan, namun Lopa tidak mundur. Lopa bertekad melanjutkan penyidikan, kecuali ia tidak lagi menjabat Jaksa Agung.

Meski menjabat Jaksa Agung hanya 1,5 bulan, Lopa berhasil menggerakkan Kejaksaan Agung untuk menuntaskan perkara-perkara korupsi.

Baharudin Lopa meninggal dunia pada usia 66 tahun, di rumah sakit Al-Hamadi Riyadh, pukul 18.14 waktu setempat atau pukul 22.14 WIB 3 Juli 2001, di Arab Saudi, akibat gangguan pada jantungnya. Lopa, mantan Dubes RI untuk Saudi, dirawat di ruang khusus rumah sakit swasta di Riyadh itu sejak tanggal 30 Juni.

Menurut Atase Penerangan Kedubes Indonesia untuk Arab Saudi, Joko Santoso, Lopa terlalu lelah, karena sejak tiba di Riyadh tidak cukup istirahat. Lopa tiba di Riyadh, 26 Juni untuk serah terima jabatan dengan Wakil Kepala Perwakilan RI Kemas Fachruddin SH, 27 Juni. Kemas menjabat Kuasa Usaha Sementara Kedubes RI untuk Saudi yang berkedudukan di Riyadh. Lopa sempat menyampaikan sambutan perpisahan.

Tanggal 28 Juni, Lopa dan istri serta sejumlah pejabat Kedubes melaksanakan ibadah umrah dari Riyadh ke Mekkah lewat jalan darat selama delapan jam. Lopa dan rombongan melaksanakan ibadah umrah malam hari, setelah shalat Isya. Tanggal 29 Juni melaksanakan shalat subuh di Masjidil Haram. Malamnya, Lopa dan rombongan kembali ke Riyadh, juga jalan darat. Ternyata ketahanan tubuh Lopa terganggu setelah melaksanakan kegiatan fisik tanpa henti tersebut. Tanggal 30 Juni pagi, Lopa mual-mual, siang harinya (pukul 13.00 waktu setempat) dilarikan ke RS Al-Hamadi.

Presiden KH Abdurahman Wahid, sebelum mengangkat Jaksa Agung definitif, menunjuk Soeparman sebagai pelaksana tugas-tugas Lopa ketika sedang menjalani perawatan. Penunjukan Soeparman didasarkan atas rekomendasi yang disampaikan Lopa kepada Presiden. Padahal Lopa sedang giat-giatnya mengusut berbagai kasus korupsi.

Pada tanggal 5 Juli 2001 pukul 14.25 Pesawat Garuda Indonesia dari Riyadh membawa jenazah Lopa pulang ke tanah air. Keesokan harinya jenazahnya di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan diiringi upacara militer yang dipimpin oleh Menkopolhukam, Agum Gumelar.

Ada hal menarik seputar kewafatan beliau. Pada waktu malam kewafatan Baharuddin Lopa cuaca di Riyadh dan sebagian wilayah Indonesia khususnya hampir seluruh pulau Jawa secara bersamaan dilanda hujan deras dengan disertai angin dan guntur, seolah langit meraung dan menangis atas kewafatan Baharuddin Lopa.

Sementara itu di Istana Negara, Gus Dur beberapa saat sebelum Baharuddin Lopa wafat terhenyak sesaat kemudian masuk kamar dan mengurung diri selama beberapa saat kemudian keluar bersimbah air mata. "Malam ini, salah satu tiang langit bumi Indonesia telah runtuh," kata Gus Dur.

Tidak ada yang paham ucapan Gus Dur, bahkan Yenni Wahid yang selalu mendampingi ayahnya saja tidak paham. Baru sekitar pukul 11 malam, akhirnya semua paham bahwa yang dimaksud Gus Dur "tiang langit" itu adalah Baharuddin Lopa. Ini menunjukkan kejernihan hati Gus Dur bisa menangkap sebuah kejadiaan luar biasa yang belum terjadi. Kabar kewafatan Baharuddin Lopa 3 jam lebih awal diterima Gus Dur daripada berita duka yang dikirimkan dari Riyadh Arab Saudi.

Sayang, suratan takdir memanggil Jaksa Agung ini tatkala rakyat membutuhkan keberaniannya. Tetapi dia telah meninggalkan warisan yang mulia untuk menegakkan keadilan. Dia mewariskan keberanian penegakan hukum tanpa pandang bulu bagi bangsanya. Lopa merupakan contoh yang langka dari figur yang berani melawan arus. Tentu untuk diteladani. (INT)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 26 Maret 2020 12:26

Pasien RS Samboja Kabur ke Balikpapan, Ada Pasien Diduga PDP yang Diusir Istri

BALIKPAPAN - Peristiwa mengejutkan terjadi di kawasan Samboja, Kutai Kartanegara…

Rabu, 25 Maret 2020 00:54

Batu Bara di Kapal Tongkang Digasak Maling

 BALIKPAPAN - Batu bara merupakan hasil sumber daya alam yang memiliki…

Rabu, 25 Maret 2020 00:52

Empat Resepsi Pernikahan di Sepinggan Raya Ditunda

BALIKPAPAN - Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi meminta masyarakat Kota Minyak…

Selasa, 24 Maret 2020 15:42

E-Walk dan Pentacity Batasi Jam Operasional

BALIKPAPAN-Untuk menekan penyebaran virus Covid-19, manajemen e-Walk dan Pentacity Shopping…

Senin, 23 Maret 2020 11:27

Pekerja PHM Positif Corona, Ini Kata Pihak Perusahaan

BALIKPAPAN - Satu diantara enam pasien positif corona di Balikpapan…

Senin, 16 Maret 2020 13:32

Soal Penunjukan Kepala Badan Otorita IKN, Ini Kata Bupati PPU

PENAJAM - Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud…

Senin, 16 Maret 2020 13:28

Akses Utama, Jalan Mulawarman Banyak Rusak

BALIKPAPAN - Zaman milenial ini masih berlaku, pejabat daerah akan tergopoh-gopoh…

Sabtu, 14 Maret 2020 15:17

Wali Kota : Balikpapan Tak Mau Kecolongan, Cegah Masuknya Wisatawan Asing

BALIKPAPAN - Saat ini sejumlah perhotelan dan perbankan mulai menerapkan…

Sabtu, 14 Maret 2020 15:16

Kenapa Ini..? Pemkot Tolak Kapal Pesiar Berlabuh di Balikpapan

BALIKPAPAN - Kapal Pesiar MV Coral Adventurer yang mengangkut 72…

Sabtu, 14 Maret 2020 15:14

Penerima Bantuan Iuran Tembus 111 Ribu Jiwa, Pemkot Tunggu Keputusan Pusat

BALIKPAPAN - Saat ini Pemerintah Kota Balikpapan masih menunggu keputusan Pemerintah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers