MANAGED BY:
KAMIS
20 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

POLITIK

Selasa, 06 November 2018 08:05
Caleg Keluhkan Isu SARA
-

 JAKARTA   -   Isu suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) yang merebak di tahun politik 2019, dikeluhkan sejumlah calon anggota legislatif (caleg). Sebab, isu itu membuat sebagian masyarakat terpengaruh dan berimbas pada pilihan politiknya.

Salah satunya diungkapkan oleh Teddy Yulianto, calon legislatif (caleg) DPRD DKI dari PPP dapil DKI Jakarta Selatan. Menurut dia, ada upaya dari seseorang atau sekelompok orang menggunakan isu SARA untuk mendapat simpati dari masyarakat.

 "Cara-cara seperti ini sangat mencederai proses demokrasi dan tidak mendidik masyarakat," kata Teddy melalui pesan tertulisnya pada wartawan, beberapa hari lalu.

 Teddy mengaku, dirinya menjadi korban dari strategi tersebut. Bahkan, sambung dia, praktik-praktik itu diduga melibatkan petugas RT dan RW.

 Namun, dia enggan menyebutkan di wilayah mana dia mendapatkan perlakuan tersebut. "Cara-cara seperti ini sangat bertentangan dengan keberagaman bangsa kita," katanya.  Akibat perlakuan tersebut, dia tidak dapat menyampaikan visi misinya, khususnya di bidang pendidikan kepada masyarakat.

 "Saya ini ketua yayasan, prihatin dengan kondisi pendidikan di masyarakat. Yayasan yang saya pimpin ada program Kejar Paket A, B dan C untuk masyarakat gratis," bebernya.

 "Saya tidak bisa menyosialisasikan kepada masyarakat karena dihalang-halangi oleh sejumlah oknum,” tambahnya. Padahal, jelas dia, program tersebut sudah dilakukan tahun-tahun sebelumnya dan masyarakat mendapatkan manfaat dari program itu.

 "Sekarang di masa kampanye banyak RT/RW menolak. Kalau begini yang dirugikan masyarakat," katanya lagi.

 "Saya tegaskan, program ini tidak ada hubungannya dengan pencalegan saya, sudah berjalan beberapa tahun sebelumnya," sambung dia.

 Teddy yakin, masyarakat telah menyadari betapa pentingnya pendidikan. Namun kenyataannya, ketika ada pihak yang peduli justru dihalangi karena kepentingan politik sesaat.

 "Saya berharap masyarakat Jakarta lebih cerdas dalam menyikapi pesta demokrasi ini," tandasnya. (ibl/jpnn)



BACA JUGA


Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers