MANAGED BY:
SABTU
24 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

POROS SELATAN

Rabu, 19 Juni 2019 10:53
Kisah Warga Korban Banjir di Kawasan Beller
Kalau Hujan Malam Hari, Malah Tak Bisa Tidur Nyenyak
SAMPAI KAPAN?:Wayan, warga RT 31 Gang Al Makmur, Jalan Beller, Kelurahan Damai, Balikpapan Kota membersihkan lumpur akibat banjir yang melanda permukimanya, pada Senin (17/6) siang.

PROKAL.CO, Musibah banjir tak henti-hentinya melanda Balikpapan setiap kali hujan deras membuat warga selalu was-was. Seperti dialami Wayan dan Sari, warga Gang Al Makmur, Jalan Beller, Kelurahan Damai, Balikpapan Kota.

ESA FATMAWATI

 

Kawasan Jalan Beller dikenal sebagai salah satu daerah langganan banjir saat hujan deras terjadi di Kota Balikpapan. Seperti yang terjadi pada Senin (17/6) siang. Kawasan ini sebenarnya memiliki sungai untuk aliran air, namun keadaan sungai menurut warga sudah sempit dan dangkal. Selama ini sudah ada wacana pelebaran sungai Jalan Beller, namun kenyataannya belum ada tanda-tanda  direalisasikan.

Wayan, warga RT 31 Gang Al Makmur pada Selasa (18/6) sore terlihat mencangkul endapan lumpur di parit depan rumahnya. Endapan lumpur tersebut menyumbat aliran parit yang meluber ke jalan.

Wayan mengatakan, dahulu banjir paling tidak hanya terjadi maksimal dua kali dalam setahun. Namun, belakangan ini, setiap hujan deras air menggenangi tempat tinggalnya.

"Kalau di jalan sini bisa sampai di dada orang dewasa. Memang di RT 31 Damai  termasuk yang paling dalam," akunya. Sebenarnya dia sudah dengar wacana pelebaran sungai yang katanya bisa menanggulangi banjir. Namun nyatanya belum benar-benar ada yang dilakukan. 

Saat banjir kemarin, dirinya dan warga sekitar harus bersabar sampai air benar-benar surut. Hujan terjadi sejak pukul 04.00 Wita, selama hujan masih belum berhenti, belum ada harapan banjir surut. Barulah pada pukul 19.00 Wita hujan benar-benar berhenti dan genangan air benar-benar surut. 

Beruntung air laut tidak sedang pasang tinggi. Biasanya jika hujan deras terjadi saat laut pasang, banjir bisa mencapai leher orang dewasa. Kira-kira sampai 1,5 meter dan kalau sudah begitu tak banyak yang bisa dilakukan kecuali berdiam di area tertinggi rumahnya.

Tak jauh dari rumah Wayan, ada rumah milik Sari yang tinggal dengan suami dan anak-anaknya. Rumah tersebut juga digunakan sebagai rental PlayStation dan warung kelontong. Sari sudah merasakan banjir di Jalan Beller sejak dirinya kecil, kira-kira tahun 1992. Namun saat itu memang rumah warga belum ditinggikan seperti sekarang.

Dua kali, bekakangan ini, hujan deras hingga menyebabkan Jalan Beller banjir. Pertama saat jelang Lebaran, kedua kali ini. Namun menurutnya kali ini cukup parah. Gang Al Makmur, tempatnya tinggal memang termasuk yang terparah, untungnya lokasi yang ia tinggali tidak serendah tempat tinggal beberapa warga sekitar.

Bisa dibilang, di Al Makmur rumah Sari terlebih dahulu surut dibanding rumah lain. Tapi tetap saja, ketika hujan deras turun dalam waktu lama, keluarganya was-was dan tak bisa tidur nyenyak.

"Apalagi kalau hujan malam hari. Kami cek terus air sudah seberapa. Amankan kendaraan, alat elektronik," sebutnya. 

Dulunya banjir di Jalan Beller tidak sampai mengalirkan lumpur. Mulai sekitar tahun 2005 dirinya merasakan banjir mulai membawa lumpur basah, yang ketika surut akan membuat rumah dan jalan kotor sekali. Ia juga merasa, makin tinggi aspal Jalan Beller, banjir juga makin ekstrem dan tinggi.

"Apalagi sekarang jarang ada pohon. Jalan ditinggikan, sungai makin dangkal, juga banyak rumah di sekitar sungai," ujar perempuan kelahiran 1990 ini. Rumahnya kali ini mengalami genangan kurang lebih 10 jam. 

Saking terbiasanya, jika hujan deras terjadi tanpa henti, semua warga pasti sudah siap-siap mengamankan barang-barang mereka ke bagian rumah yang tinggi. Kebanyakan rumah warga memiliki tangga di bagian dalam ke dapur, sehingga banjir tak sampai menggenangi seluruh rumah. 

"Hujan kali ini termasuk tidak seberapa. Hanya karena hujannya lama. Banjir pernah setinggi kepala orang dewasa," ungkapnya.

Sejauh ini warga belum terpikir mengungsi. Karena kebanyakan warga asli sudah punya area tinggi di rumahnya untuk jaga-jaga. Pernah juga air masuk sampai area dapur yang sudah cukup tinggi. Kalau gitu mereka terpaksa naik loteng atau lantai dua rumah.

"Barang-barang kami, sudah ada tempatnya kalau banjir. Tempat antisipasi. Mungkin ada sih warga yang mengungsi, tapi itu cuma pengontrak dan bukan warga asli sini. Kalau warga asli sudah biasa. Rata-rata kan rumahnya sudah ditinggikan," jelasnya.

Kalau hujan malam, semua anggota keluarga naik ke tempat tertinggi di rumah untuk beristirahat.

"Yang penting bisa tidur. Simpan ada buat besoknya ngepel. Kalau sampai rugi sih sekarang sudah enggak ya, sudah biasa jadi sudah antisipasi," katanya.

Yang paling pertama diamankan adalah kendaraan bermotor. Karena kalau tergenang air hujan bisa mogok. Biasanya paling mentok yang jadi korban adalah kursi dan kasur. Atau alat elektronik kalau si warga tidak punya tempat untuk mengamankan.

Sampai saat ini, dirinya pribadi mengaku belum pernah ditawari pindah oleh pemerintah kota. Ia hanya menunggu wacana pelebaran sungai.

"Tapi belum ada kelihatan pekerjaan. Mungkin masalah pembebasan lahan," katanya.

Dirinya hanya berharap, jika memang pemerintah ada solusi jangan jadi wacana saja. Apalagi kalau banjir juga membawa sampah dari lokasi lebih tinggi, area Jalan Beller jadi sangat kotor dan jorok.

"Mungkin bisa dikeruk sungainya atau ditanami pohon supaya ada serapan. Saya merasa itu sungai makin dangkal, jadi airnya kesini," tandasnya. (vie)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 23 Agustus 2019 09:43

Balikpapan Jadi Penyangga Ibu Kota

BALIKPAPAN - Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil membocorkan…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:41

19 Insitusi Ikuti Sosialisasi OSS

BALIKPAPAN – Inovasi Si Jempol (Sistem Jemput Bola Langsung) dari…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:38

Sekali Tembak Harga Satu Mobil Avanza

BALIKPAPAN-Melihat langsung prajurit Armed menembak menggunakan senjata berat meriam howitzer…

Kamis, 22 Agustus 2019 10:36

Biaya Pemindahan Ibu Kota Negara Capai Rp 458 Triliun

BALIKPAPAN-Pemerintah pusat mantap untuk memindahkan ibu kota negara ke Pulau…

Kamis, 22 Agustus 2019 10:34

DLH Lakukan Penilaian Eco Office Perusahaan

BALIKPAPAN-Tim penilai eco office perusahaan yang dibentuk Dinas Lingkungan Hidup…

Kamis, 22 Agustus 2019 10:33

AGM: PPU Punya Lahan Luas, Siap Jadi Ibu Kota Negara

BALIKPAPAN-Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Abdul Gafur Mas'ud (AGM) menghadiri…

Rabu, 21 Agustus 2019 12:01

2021, Pembangunan Fisik Ibu Kota di Kalimantan

BALIKPAPAN-Pemerintah pusat memastikan, pembangunan fisik ibu kota negara di Kalimantan…

Rabu, 21 Agustus 2019 11:42

200 Awak Kapal Ikut Diklat Pemberdayaan Masyarakat

BALIKPAPAN-Sebanyak 200 nakhoda dan awak kapal layar motor tradisional penangkap…

Rabu, 21 Agustus 2019 11:41

Menuju KLA, Wujudkan Kelana dan Dekela

BALIKPAPAN-Gugus tugas Balikpapan menuju kota layak anak (KLA) menggelar rapat…

Selasa, 20 Agustus 2019 11:24

Perencanaan Pengadaan Barang dan Jasa Tidak Maksimal

BALIKPAPAN-Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) menilai proses pengadaan barang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*