MANAGED BY:
MINGGU
07 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

UTAMA

Senin, 14 Oktober 2019 13:04
Susahnya Ngatur Jukir Liar, Bagusnya Diapain Ya....

PROKAL.CO,  Juru parkir (jukir) liar masih banyak ditemukan di Kota Balikpapan, misalnya  di Balikpapan Kota maupun Balikpapan Tengah. Meski telah menjadi binaan Dinas Perhubungan (Dishub), masih ada jukir liar yang kerap muncul dan hilang.

Contohnya di Jalan Ahmad Yani, area depan Alfamidi hingga toko Raja Parfum. Masih ada jukir liar yang kadang menarik ongkos parkir, kadang-kadang tak ada. Di Pasar Pandan Sari, parkir liar sudah memakan badan jalan depan pasar. Yang harusnya parkir hanya di area dalam pasar, kini sudah ada jukir liar yang menarik ongkos parkir di depan pasar. Itu juga yang akhirnya kerap menjadi biang kemacetan kawasan depan pasar Pandansari, atau Jalan Pandan Wangi. Bahkan pernah kejadian pembunuhan karena rebutan lahan parkir.

Kepala Dishub Kota Balikpapan Sudirman Djayaleksana mengakui, pihaknya secara rutin sudah melakukan patroli agar Kota Balikpapan terbebas dari jukir liar ini. Dirinya juga menyebut, untuk lebih efektif dalam penertiban parkir liar, sudah semestinya lurah maupun camat terlibat.

"Tidak bisa kalau hanya parkir Dishub yang mengatasi. Maunya semuanya bergerak. Sebenarnya untuk penertiban parkir liar ini kami sudah membentuk tim gabungan bersama TNI/ Polri dan satpol PP," sebut Sudirman pada Balikpapan Pos beberapa waktu lalu.

Operasi yang dilakukan oleh tim gabungan tersebut dalam sebulan dilaksanakan enam sampai tujuh kali. Sasarannya adalah para jukir liar dan parkir-parkir liar Kota Balikpapan. "Sejauh ini kami sudah menyisir seluruh kawasan yang berpotensi ada jukir liar. Tapi masalahnya, tidak bisa jika hanya sekali datang," terangnya.

Maksudnya, dalam mengatasi jukir liar tak jarang Dishub harus kucing-kucingan. itulah mengapa pihaknya meminta peran serta semua pihak termasuk kelurahan dan kecamatan. Dalam operasi ini, ia beralasan, Dishub tak bisa memonitor selama 24 jam nonstop.

"Makanya kami mohon bantuan kewilayahan, seperti Camat dan Lurah. Selain itu juga ada kasi Trantib di tiap kelurahan. Kami berharap ada kerjasama dari mereka mendata titik-titik parkir liar. Kemudian daftar tersebut dikoordinasikan dengan kami di Dishub," berharapnya.

Sudirman juga mengeluhkan para jukir liar yang selalu berganti shift dalam sehari. "Masalahnya lagi mereka seperti minum obat, sehari tiga kali ganti shift. Bisa jadi saat razia pagi sudah ditertibkan, lalu yang siang beda orang lagi," ujarnya.

Diakuinya hal tersebut menjadi kesulitan Dishub. Kendati begitu Dishub selalu mengupayakan untuk melakukan pembinaan terhadap para jukir. Sudirman menyebut saat ini jukir yang sudah masuk binaan sebanyak 50 persen dari keseluruhan.

"Sebenarnya peningkatan tidak bisa secara langsung, harus lihat di lapangan apakah mereka sudah termasuk dari binaan atau bukan. Jukir binaan ini juga ada identitasnya, seperti berupa rompi dan tanda pengenal," tuturnya.

Sementara, Kepala UPT Pengelolaan Parkir Dishub, Hikmatullah Hardian menyebutkan, tak mudah merangkul para jukir liar tersebut untuk menjadi binaan Dishub. Selama ini yang menjadi kendala rekrutmen parkir binaan antara lain karena masih banyaknya jukir liar yang menghindar.

Ini kemudian berakibat Dishub masih harus kejar-kejaran dengan para jukir tersebut. "Keseluruhan parkir binaan ada 125 orang, tersebar di 45 titik lokasi parkir. Jumlah ini, termasuk yang bertugas di Parkir Meter. Mereka bekerja shift. Untuk yang di parkir elektronik 13 orang, bergantian pagi dan sore," jelasnya.

Menurutnya, salah satu kesulitan dalam merekrut parkir binaan adalah karena parkir liar merupakan pendapatan mereka. Sehingga tidak semua juru parkir mau lantaran takut kehilangan pendapatan. Padahal dalam hal ini Dishub hanya membina, sementara pembagian masih lebih banyak untuk juru parkir.

Bagi hasil atau gaji petugas parkir elektronik dengan parkir binaan, berbeda. Petugas parkir elektronik mendapat gaji tiap bulan, sementara uang hasil retribusi parkir diserahkan pada UPT Pengelolaan Parkir Dishub. Sementara itu, untuk parkir binaan Dishub sistemnya bagi hasil.

Yaitu 30 persen untuk kas Kota Balikpapan, dan 70 persen untuk juru parkir. "Shift juga dua kali. Untuk setornya tergantung kesepakatan. Ada per bulan, ada per hari," imbuhnya. Sistem bagi hasil ini, menurutnya mengacu regulasi Peraturan Daerah nomor 10 tahun 2006.

Selain rompi dan tanda pengenal, jukir binaan juga dilengkapi karcis retribusi. Sehingga dalam menarik tarif parkir pada pengendara, harusnya para jukir binaan ini memberikan karcis parkir resmi.

Keberadaan parkir elektronik atau yang biasa disebut dengan Terminal Parkir Elektronik (TPE) sebenarnya menjadi upaya mengurangi kebocoran pendapatan parkir tepi jalan. Ada tujuh TPE yang tersebar di kawasan Jalan Ahmad Yani sejak akhir 2017 lalu.

Ada 7 titik meliputi depan Rumah Makan Teluk Bayur Gunung Sari, depan Toko Kue Linda Gunung Sari, depan Apotik Kimia Farma Gunung Sari, depan Soto Banjar Kuin, depan Apotik Sumber Sehat/Toko Sepatu Jhonson, depan Maxi Gunung Sari, dan depan Maxi Karang Jati.

Tarif parkir tepi jalan diberlakukan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Balikpapan No 4 Tahun 2017 Tentang Retribusi Jasa Umum, yaitu kendaraan roda 2 sebesar Rp 2.000,- untuk 1 jam pertama dan Rp 1.000,-untuk jam berikutnya. Sementara, roda 4 untuk 1 jam pertama membayar sebesar Rp 4.000,- dan Rp 2.000,- untuk jam berikutnya.

Selain kendaraan tersebut, TPE juga dipergunakan untuk kendaraan mobil barang, bus, atau kendaran khusus, dimana biaya retribusinya sebesar Rp 5.000,- untuk 1 Jam pertama dan Rp 3.000,- untuk jam berikutnya.

TPE mulai resmi difungsikan sejak 2 Februari 2018. Sejak dioperasionalkan, beberapa kali TPE yang menggunakan tenaga surya ini dikeluhkan rusak, baik oleh pengendara maupun jukir yang bertugas. Selama ini Dishub beralasan, kerusakan disebabkan oleh jaringan provider yang kerap hilang timbul.

Pengoperasian TPE mengandalkan provider selular. Dishub sempat menggunakan provider, seperti Telkomsel dan XL. Jaringan juga sempat mengalami down saat BTS milik Telkomsel pernah hilang beberapa waktu lalu. Pada November 2018, Dishub juga sempat mendatangkan teknisi. Di sebutkan, tidak ada kerusakan yang terjadi pada saat itu kecuali masalah jaringan internet.

Dishub pernah mengevaluasi, bahwa TPE di depan Apotek Sehat dan Rumah Makan Teluk Bayur penerimaannya kurang. Mereka kemudian merencanakan memindahkan TPE di lokasi lain, namun tetap di kawasan Jalan Ahmad Yani.

Belakangan, pada akhir 2018 Dishub juga mengeluhkan ada beberapa TPE yang sempat menjadi korban vandalisme. Ada dua mesin yang sempat dirusak, salah satunya dirusak pada bagian keypad. Lokasi TPE yang dirusak yakni di depan apotek Kimia Farma dan Ritel Maxi, Karang Jati.

Persoalan macetnya TPE rupanya masih berlanjut sampai pertengahan 2019 ini. September lalu akhirnya tujuh unit motherboard TPE tersebut dikirim ke Jakarta untuk reparasi. Kata Hikmatullah, selain reparasi pihaknya juga meminta agar dilakukan instalasi ulang dan upgrade aplikasi.

Perbaikan yang dilakukan dimulai dari analisa kerusakan. Perbaikan ini tidak dipungut biaya lantaran masih masa perawatan. "Kami sudah kirim sejak beberapa pekan lalu. kami masih tunggu karena masih belum pasti kapan selesai," kata Hikmatullah.

Kerusakan yang terjadi disebutkan karena pergantian provider. Jaringan yang tidak stabil mempersulit kinerja TPE. Estimasi perbaikan kira-kira memakan waktu satu bulan. Selama masa reparasi ini, parkir di kawasan TPE terpaksa dilakukan manual.

"Jaringan kan sempat down beberapa lama. Lalu kami juga pernah mengganti provider beberapa kali dan hasilnya sama. Makanya kami coba untuk mengembalikan lagi ke sana supaya diinstal ulang," alasannya.

Target retribusi parkir tepi jalan yang ditetapkan pada awal 2019 lalu adalah Rp 10 miliar. Target ini naik Rp 2 miliar dibanding tahun 2018, yaitu Rp 8 miliar. Pertimbangan dari target yang cukup tinggi, didasarkan pada potensi pendapatan retribusi parkir yang memang cukup besar, yaitu Rp 11 miliar.

Potensi tersebut bisa diraup apabila seluruh target parkir binaan tercapai. Namun masalahnya sampai dengan September 2019, jumlah parkir binaan masih mentok di 45 titik dan hanya mencapai 125 orang.

Pada akhirnya lantaran tak yakin target Rp 10 miliar bisa tercapai, menjelang akhir tahun 2019, tepatnya Agustus lalu, target diturunkan menjadi Rp 3,5 miliar. Padahal, kata dia, potensi retribusi parkir tepi jalan, jika seluruhnya berada di bawah binaan Dishub Balikpapan bisa mencapai target tersebut.

Perolehan retribusi parkir tepi jalan sampai September ini tercapai Rp 2 miliar. Ini menjadi salah satu alasan mengapa target diturunkan. Bahwasanya mengejar target Rp 3,5 miliar masih memungkinkan. Namun untuk mencapai target Rp 10 miliar masih sangat jauh.

Perubahan target ini, lanjut dia, sudah dipastikan bakal dilakukan. Menurutnya, untuk mencapai Rp 5 miliar saja, parkir tepi jalan masih belum memungkinkan. UPT mengaku pesimistis. Karena sama seperti tahun-tahun sebelumnya, perolehan PAD memang tidak pernah lebih dari Rp 3 miliar.

"Masuk di perubahan. Kami mengikuti dari pimpinan. Mencapai Rp 5 miliar saja tidak memungkinkan karena tren per bulan hanya Rp 300 juta," sebutnya. Ini berasal dari gabungan parkir tepi jalan binaan Dishub dan parkir elektronik.

Target diturunkan karena masih banyak potensi yang belum berhasil dibina Dishub Balikpapan. Jika melihat data Dishub, pada tahun 2017, hasil retribusi parkir tepi jalan mencapai Rp 1,5 miliar. Kemudian pada tahun 2018 naik menjadi Rp 3 miliar. "Makanya melihat potensi yang sudah dibina, bisa kita capai kalau target Rp 3,5 miliar," katanya.

Sampai saat ini titik-titik parkir yang sudah berada di bawah binaan Dishub paling banyak berada di Jalan Ahmad Yani, Jalan MT Haryono, dan Jalan Jendral Sudirman. Selain itu juga ada di Balikpapan Selatan, yaitu Jalan Ruhui Rahayu, kawasan Taman Tiga Generasi.

"Kalau di Balikpapan Timur Jalan Mulawarman. Balikpapan Barat sebagian juga sudah kami bina. Tapi yang paling banyak belum dibina masih di Balikpapan Barat dan Utara," tandasnya. (cha/ono)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 April 2020 01:08

Pengetatan Sosial Tidak Efektif, Warga Masih Banyak Nongkrong

BALIKPAPAN - Sejak diberlakukannya pengetatan sosial alias pengurangan aktivitas kumpul-kumpul…

Sabtu, 18 April 2020 01:05

Kasus Terbanyak Corona, Balikpapan Belum Berani PSBB

BALIKPAPAN - Demi mempersempit penyebaran Covid-19 di tengah lingkungan masyarakat,…

Sabtu, 18 April 2020 01:04

Kurangi Ketergantungan Beras, Upayakan Penganekaragaman Pangan

BALIKPAPAN - Beras merupakan makanan pokok rakyat Indonesia. Penyeragaman konsumsi…

Jumat, 17 April 2020 12:39

KELAKUAN SAMA..!! Bapak Cabuli Anak Tetangga, Anak Cabuli Pacar

PENAJAM - Heboh, terungkap keluarga cabul. Ayah dan anak di…

Jumat, 17 April 2020 12:30

Tertulis Bahan Kimia, Ternyata Daging Babi

BALIKPAPAN - Pejabat Karantina Hewan Balikpapan melakukan penahanan terhadap daging…

Kamis, 16 April 2020 10:17

Pasien Covid-19 Bandel, Jalan-Jalan sambil Rekam Pasien Lainnya, Ini Tindakan RSUD

PENAJAM - Direktur RSUD Ratu Aji Putri Botung Kabupaten Penajam…

Kamis, 16 April 2020 10:09

Dua Pria Ditemukan Sudah Tak Bernyawa

BALIKPAPAN - Dua pria ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di…

Senin, 13 April 2020 12:31

Anggota Dewan Ini Bilang Bantuan Pemkot Terkesan Lambat

BALIKPAPAN - Sudah sekitar sebulan lebih penyebaran corona virus disease 2019…

Senin, 13 April 2020 12:30

Gas Langka, Maling Tabung Gas Tambah Berani

BALIKPAPAN - Pasca diberlakukannya pengetatan social, akhir-akhir ini warga mengeluh…

Sabtu, 11 April 2020 13:12

Penutupan Bandara dan Pelabuhan Kewenangan Kementerian Perhubungan

BALIKPAPAN - Untuk mengantipasi dan membatasi warga luar yang masuk ke…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers