MANAGED BY:
RABU
01 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | POROS SELATAN | HUKUM DAN KRIMINAL | POLITIK | OLAHRAGA | PPU-PASER | ADVERTORIAL

BALIKPAPAN

Kamis, 30 Januari 2020 22:58
Menembus Pedalaman untuk Mengajar, Meretas Masa Depan
BERBAGI KEBAHAGIAAN: Para relawan 1000 Guru Balikpapan saat berfoto bersama anak-anak Kampung Adat Mului, Desa Swan Slutung, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser.

PROKAL.CO, Menjadi seorang pendidik tidak harus menyandang gelar guru. Siapapun bisa menjadi pendidik, turut andil dalam usaha mencerdaskan generasi penerus bangsa. Hal inilah yang menjadi program 1000 Guru Balikpapan, merasakan menjadi guru sehari di daerah pedalaman.

 

DIAH ANGGRAENI

 

SEBANYAK 35 anak muda yang berasal dari latar belakang pendidikan dan profesi yang berbeda-beda tampak antusias. Mereka adalah para relawan pendidikan yang tergabung dalam komunitas 1000 Guru Balikpapan. Memiliki niat yang sama, mengembangkan semangat pendidikan generasi penerus bangsa dan eksplore kekayaan alam dan budaya nusantara.

Tujuan mereka adalah daerah pedalaman di Kabupaten Paser, tepatnya Kampung Adat Mului, Desa Swan Slutung, Kecamatan Muara Komam. Menempuh jalur laut, darat, dan menembus rimbunnya hutan di tengah malam menggunakan kendaraan offroad.

Butuh waktu sekira 11 jam untuk mencapai desa yang berada di kaki Gunung Lumut tersebut. Berangkat dari Pelabuhan Kariangau menuju Kabupaten Penajam, dilanjutkan perjalanan darat ke Desa Simpang Lombok, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser.

Kemudian berganti kendaraan milik anggota Indonesia Off-Road Federation (IOF) Kabupaten Paser juga VES Community Paser menuju Kampung Adat Mului. Rombongan baru tiba keesokan harinya (26/1) pada pukul 04.00 Wita.

Tiba di Mului, para relawan disambut kesunyian. Tidak ada cahaya kecuali dari lampu kendaraan offroad. Raga yang lelah tidak dirasakan, hanya ucapan syukur yang terdengar.

“Alhamdulillah,” kata inilah yang terdengar dari sejumlah relawan ketika kali pertama kaki mereka menapak di jalan desa yang didiami suku Dayak Paser tersebut.

Wajar saja, banyak kejadian yang dialami rombongan ketika menembus hutan belantara. Mulai dari hujan, kendaraan offroad yang mogok, ban ambles akibat lumpur, hingga kaca kendaraan yang pecah. Belum lagi medan jalan yang sulit dan dikelilingi jurang.

Banyakin doa, siapa tahu karena sesuatu hal (kasatmata, Red),” kata Ari, salah seorang karyawan swasta dari Jakarta ketika kendaraan offroad yang ditumpanginya mogok. 

Pada Sabtu (25/1) pagi, kegiatan pun dimulai. Hari itu adalah hari yang paling ditunggu. Mengajar para murid  SDN Kunjung 012 maupun anak putus sekolah, mulai dari pengenalan panca indera hingga pentingnya ekonomi di luar kelas.

Tidak hanya itu, dalam kegiatan ini juga ada sesi heart to heart. Berbicara dari hati ke hati, menggali sedalam mungkin untuk terus semangat.

“Anak-anak di sini paling tinggi sekolahnya itu SMP. Itu pun hanya beberapa,” ungkap ketua RT setempat, Jiham.

Di Kampung Adat Mului, terdapat 23 anak usia sekolah. Jarak yang jauh dan akses yang sulit menjadi kendala mereka untuk menikmati pendidikan yang layak.

“Guru tidak tentu datangnya. Apalagi musim hujan, kalau hari-hari bisa sebulan guru nggak datang,” imbuhnya.

Untuk mendapatkan pendidikan di luar kampung, mereka mengaku kesulitan biaya. Untuk kebutuhan sehari-hari, warga Kampung Adat Mului sangat mengandalkan alam. Tidak ada pendapatan tetap.

“Jadi, kegiatan ini semacam mengembalikan fitrah TNT (Traveling and teaching, Red). Letak geografisnya jauh atau daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), tidak ada sinyal,” ungkap Ketua TNT Kampung Adat Mului, Ishtofani.

Perempuan yang akrab disapa Fani itu juga menjelaskan, jumlah anak sekolah di Kampung Adat Mului yang sedikit merupakan masa depan Mului. Merekalah yang akan menjaga hutan adat yang luas dan kelestarian budaya adat di sana.

“Sehingga relawan bisa tahu, bahwa mereka yang tahu baca dan tulis saja bisa menjaga hutan. Jangan sebaliknya, kita yang paham akan hal itu malah merusak hutan,” pungkasnya.

Program 1000 Guru Balikpapan juga ingin mengenalkan bahwa di Kaltim ada tanah adat. Jangan sampai, penduduk lokal tidak mengetahui bahkan merasa asing dengankearifan lokal yang ada di wilayahnya. (dia/vie

loading...

BACA JUGA

Kamis, 26 Maret 2020 12:33

Ngaku Dibegal, Tapi Bohong..! Ini Alasan Pelaku

BALIKPAPAN - Masyarakat sempat dihebohkan dengan adanya kejadian begal di…

Kamis, 26 Maret 2020 12:31

Biar Aman, Balikpapan Barat Diguyur Disenfektan

 BALIKPAPAN - Pemerintah Kota Balikpapan bersama dengan stakeholder kembali melakukan aksi…

Rabu, 25 Maret 2020 00:55

Polisi Temukan Titik Terang Pelaku Buang Bayi

BALIKPAPAN - Polisi terus menelusuri pelaku pembuang bayi di Jalan…

Senin, 23 Maret 2020 11:32

Pemkot Lakukan Penyemprotan Besar-besaran

BALIKPAPAN - Menyikapi semakin meningkatnya penyebaran virus corona (covid-19) 6…

Senin, 23 Maret 2020 11:22

Perbaikan Jalan Ambles Masih Tunggu Ini...

BALIKPAPAN - Ruas ambles di Jalan Soekarno-Hatta Kilometer 10, Kelurahan…

Minggu, 22 Maret 2020 11:59

Masih Ada Warga Tak Peduli Kebersihan, Sampah Penuhi DAS Beller

 BALIKPAPAN - Tumpukan sampah masih kerap ditemukan di beberapa titik…

Minggu, 22 Maret 2020 11:57

Stok Gula di Balikpapan Menipis

BALIKPAPAN –Stok gula di Indonesia menipis, termasuk di Kota Balikpapan.…

Sabtu, 14 Maret 2020 15:13

Begal Makin Mengkhawatirkan, Ini Perintah Kapolres

BALIKPAPAN - Warga Balikpapan dihebohkan dengan beredarnya pesan berantai di…

Jumat, 13 Maret 2020 01:38

Gara-Gara Perempuan, Teguh Dikeroyok di Rumah Sendiri

BALIKPAPAN - Emosi tak terkontrol memang kerap membuat siapapun nekat…

Jumat, 13 Maret 2020 01:29

Di Balikpapan, DBD Sudah Renggut 4 Korban Jiwa

BALIKPAPAN - Angka kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) pada tahun ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers